<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ariefara's Weblog</title>
	<atom:link href="http://ariefara.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ariefara.wordpress.com</link>
	<description>Hidup itu sulit jangan dibuat sulit</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Sep 2008 05:15:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ariefara.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ariefara's Weblog</title>
		<link>http://ariefara.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ariefara.wordpress.com/osd.xml" title="Ariefara&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ariefara.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Wisata Air Krueng Aceh</title>
		<link>http://ariefara.wordpress.com/2008/09/02/wisata-air-krueng-aceh/</link>
		<comments>http://ariefara.wordpress.com/2008/09/02/wisata-air-krueng-aceh/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 05:08:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariefara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariefara.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Wisata Air Krueng Aceh. Memperindah Kota, Membuka Peluang Ekonomi Masyarakat   Suasana Banda Aceh, Rabu sore kemarin terlihat sedikit sepi. Suhu udara yang cukup panas, sekitar 34 derajat celcius, membuat wargakota enggan untuk keluar rumah. Tapi kondisi ini bertolak belakang dengan suasana di bantaran Krueng Aceh, tepatnya di ujung jembatan Berawe.             Puluhan kendaraan roda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariefara.wordpress.com&amp;blog=2766115&amp;post=26&amp;subd=ariefara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Wisata Air Krueng Aceh.</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Memperindah Kota, Membuka Peluang Ekonomi Masyarakat </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Suasana Banda Aceh, Rabu sore kemarin terlihat sedikit sepi. Suhu udara yang cukup panas, sekitar 34 derajat celcius, membuat wargakota enggan untuk keluar rumah. Tapi kondisi ini bertolak belakang dengan suasana di bantaran Krueng Aceh, tepatnya di ujung jembatan Berawe. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Puluhan kendaraan roda dua berjajar rapi disepanjang trotoar jalan Kuta Alam. Sementara belasan orang terlihat duduk santai di kursi taman yang tersedia di lokasi tersebut. Rindangnya pepohonan yang berada di lokasi tersebut membuat suasana taman tersebut jauh lebih teduh dan sejuk. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Beberapa pemuda, pedagang di lokasi tersebut, terlihat sibuk menata bangku dan meja mini di bibir pantai Krueng Aceh. beberapabangku telah terisi, termasuk yang ditata diatas dermaga yang sengaja dibangun diatas aliran sungai. Ada empat wanita muda dengan seragam ungu asyik bercerita. Sementara disudut sebelah barat, terlihat tiga pria dan seorang wanita menikmati suasana. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Seorang wanita paruh baya, belakangan diketahui bernama Nurani, 53 tahun, sibuk mondar-mandir, antara pintu masuk dan bangku taman, sambil menenteng botol minuman ringan. Sesekali wanita ini membawa baki berisi dua atau tiga mangkuk bakso. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Nuraini, pedagang bakso gerobak ini mangkal di sebelah kanan pintu masuk taman, sejak hampir tiga bulan lalu. Wanita beranak empat asal Sigli yang telah belasan tahun bermukim di Lambhuk ini mengaku, usaha sebagai pedagang bakso ini telah dijalaninya sejak beberapa tahun lalu. Sementara suaminya hanya berprofesi sebagai tukang becak. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Sebelumya, Nuraini menggelar gerobak baksonya di kawasan Kuta Alam. Namun karena lokasinya yang tidak strategis serta pengunjung yang kurang, penghasilan yang diperolehnya jauh dari kata cukup. Tak jarang dia harus mengurut dada karena dagangannya tak laku. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>“Lebih banyak ruginya. Makanya lebih sering saya mangkir tidak jualan, karena modal habis,” katanya, Rabu sore 23 Juli kemarin kepada <em>Rajapost</em>, yang menemuinya di kawasan Taman Krueng Aceh Beurawe.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Nuraini yang biasanya berdagang dibantu suami mengaku sempat frustasi dan “menggudangkan” gerobaknya. Namun ketika pembangunan taman Krueng Aceh Beurawe selesai, empat bulan lalu, serta banyaknya pengunjung ke taman tersebut, membuat semangatnya kembali bangkit. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dengan modal semangat, Nuraini kembali mendorong gerobak baksonya dan mangkal tepat di sisi pintu masuk taman. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Alhamdulillah, rata-rata setiap haribisa dapat untung bersih Rp.30.000,-,” katan wanita yang menggelar dagangannya di lokasi tersebut hingga pukul 22.00 WIB. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Hal sama disampaikan Apit, 25 tahun, <span> </span>pedagang roti bakar dengan merk dagang “Dermaga Burger”, yang juga menggelar dagangannya di lokasi tersebut. Lelaki yang masih lajang ini mengaku malu menjadi pengangguran dan lebih memilih menjadi pedagang roti bakar. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Awalnya kami menggelar dagangan di kawasan Simpang Lima. Namun karena sepi dan lebih sering rugi, kami memilih pindah ke lokasi ini sejak tiga bulan lalu,” kata Apit, didampingi beberapa pedagang lainnya, yang menggelar gerobaknya berdekatan dengan Dermaga Burger. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Apit mengaku penghasilan yang mereka peroleh selama berdagang di lokasi Taman Krueng Acehini jauh lebih baik dari sebelumnya. Rata-rata perhari, katanya, mereka bisa meraih penghasilan kotor Rp.300.000,- “Jauh lebih menguntungkan dari sebelumnya,” katanya. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Meski memperoleh penghasilan yang jauh lebih baik dari sebelumnya, namun Apit maupun Nurani mengeluhkan masih belum menyalanya lampu di taman tersebut. “Terpaksa pakai lilin,” kata Nurani, yang diiyakan Apit. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Memang awal-awalnya lampu di lokasi tersebut dinyalakan. Namun sejak dua bulan belakangan ini, lampu taman tidak lagi dinyalakan. “Selain kami yang kegelapan, pembeli dan pengunjung yang datang juga kegelapan,” kata Apit. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>                                                </span>*****</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Fasilitas yang kurang memadai di lokasi wisata kota Banda Aceh ini juga diakui Yuri, 24 tahun, karyawan sebuah perusahaan swasta di Banda Aceh, yang baru pertama datang ke taman tersebut. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Kalau pergi kerja lihat lokasi ini sepertinya kok enak untuk duduk-duduk. Makanya sore ini bersama teman-teman kami sempatkan untuk mengunjunginya,” kata Yuri, yang datang bersama tiga temannya. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dikatakannya, keberadaan taman tersebut menjadi sarana baru bagi warga kota untuk melepas lelah sepulang kerja, baik bersama teman maupun keluarga. Namun perlu ada penataan dan pengelolaan yang lebih baik dan profesional. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Yang paling penting, pengunjung dan pengelola lokasi ini bisa menjaga lokasi wisata keluarga ini menjadi lokasi wisata yang positif, dan dapat menghindari hal-hal yang positif. Makanya lampu harus dinyalakan, agar terhindar dari niat segelintir orang untuk berbuat hal yang dilarang agama. Kalau sudah untuk tempat berduaan akan jadi jelek,” katanya. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Selain itu, Yuri juga mengingatkan pengelola untuk bisa menambah sarana dan prasarana di lokasi tersebut, seperti perahu wisata, dan peningkatan mutu panganan yang dijajakan, serta harus lebih beragam. “Tapi memang ini masih baru, jadi masih kurang lengkap,” katanya. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Jika pengelolaannya baik dan fasilitasnya lengkap, tambah Yuri, tidak tertutup kemungkinan taman ini akan dijadikan prioritas Yuri dan teman-temannya untuk dikunjungi. “Selain dekat, bisa sekali jalan sambil pulang kantor,” katanya. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Selain membuka peluang bagi pengusaha kelas bawah, keberadaan taman tersebut juga membuka peluang baru bagi warga sekitar, khususnya pemuda. Paling tidak mereka bisa memanfaatkan lahan parkir di lokasi tersebut sebagai sumber pemasukan kas pemda setempat. Selain itu, keberadaan pedagang dan pengelola parkir ini juga menjadi sumber baru bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Banda Aceh. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>                                                </span>*****</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Membangun Ekonomi Rakyat </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Membangun taman wisata kuliner Krueng Aceh, ternyata bukan hanya untuk memperindah pemandangan Banda Aceh sebagai ibukota provinsi, tapi ternyata jauh lebih luas lagi, yakni memberi peluang untuk menggeliatnya kembali perekonomian masyarakat, terutama mereka yang berprofesi sebagai pedagang kecil.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Setidaknya itulah awal dari maksud dan tujuan lahirnya usulan untuk membangun kawasan wisata kuliner dan air Krueng Aceh, yang diajukan Pemko Banda Aceh kepada Sektor Usaha BRR, melalui Satker BRR Pemberdayaan Ekonomi dan Pengembangan Usaha Wilayah I.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Usulan tersebut mendapat anggapan positif dengan dikerjakannya proyek Plasa Wisata Kuliner di kawasan Lamnyong, Banda Aceh, oleh CV Puri Agronomi &amp; Co, melalui kontrak kerja No:0018/SPP/BRR.888926.04/IX/2007, September 2007, dengan nilai konrak sebesar Rp.1.457.001.000,-dan harus selesai Desember 2007.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Sementara untuk proyek Taman Wisata dan Kuliner Krueng Aceh, yang dibangun di kawasan Kedah, tepatnya di depan terminal APK Kedah dan di Kuta Alam, tepatnya di taman ujung jembatan Beurawe, BRR menganggarkan dana sebesar Rp.1.345.959.000,-dam dikerjakanoleh PT Mutiara Lestari Raya. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>“Kedua proyek tersebut telah kita serahkan ke Pemko Banda Aceh. masing-masing tanggal 19 dan 26 Pebruari 2008 lalu, untuk dapat dikelola dan dimanfaatkan oleh Dinas Pariwisata Banda Aceh,” kata Drs Muzakir MM, Kasatker BRR Pemberdayaan Ekonomi dan Pengembangan Usaha Wilayah I, Kamis 24 Juli 2008, yang ditemui <em>Rajapost</em> di kantornya. <span> </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Penyerahan kedua aset tersebut diterima Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh T Saifuddin TA M.SI, dan diketahui Wakil Walikota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal dan Kepala Distrik Banda Aceh<span>  </span>Kantor Perwakilan Wilayah I, M Iqbal Bharata.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Dikatakan Muzakir, pembangunan kedua proyek tersebut diharapkan dapat memberikan efek positif untuk menghidupkan perekonomian masyarakat sekitar, hususnya para pedagang makanan dan minuman ringan. “Prinsipnya pembangunan ini bermanfaat untuk masyarakat. Efeknya harus menetes ke masyarakat, terutama untuk meningkatkan perekonomian mereka,” katanya. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Sementara itu Wakil Walikota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal yang ditemui <em>Rajapost</em> mengaku masih perlu dilakukan pembahasan dengan leading sector untuk membicarakan siapa ang akan mengelola aset tersebut nantinya. “Apakah akan dikelola koperasi, misalnya, atau langsung oleh Pemko,” katanya. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Sebagai sarana untuk memperindah kota, tambah Illiza, lokasi ersebut juga harus ditata dengan baik dan harus bersih. Untuk itu dia mengingatkan para pedagang yang berusaha di kawasan tersebut, baik di Lamnyong, Kuta Alam aau Kedah dapat menjaga kebersihan dan keindahan kawasan wisata ini. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Illiza menjanjikan akan menambah berbagai fasilitas untuk melengkapi fasilitas yang sudah ada. Diantaranya boat (perahu) wisata, yang sudah ada, bantuan dari BRR sebanyak dua unit, yang belum dioperasikan. Menurutnya, kedua perahu ini akan diuji coba penggunaannya pada Agustus mendatang. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>“Kita juga akan membuka peluang seluas-luasnya untuk para investor masuk dan mengelola kawasan wisata ini. Khususnya untuk kuliner dan fasilitas wisata airnya,” kata Illiza, menutup pembicaraan. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Sayangnya, dari tiga lokasi yang telah selesai dibangun dan telah diserahkan ke Pemko Banda Aceh, baru kawasan Kuta Alam dan Plasa Kuliner Lamnyong yang beroperasi. Sementara kawasan Kedah masih belum dimanfaatkan dan masih kosong sama sekali. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Diharapkan Pemko Banda Aceh serta para pedagang makanan ini dapat memanfaatkan kawasan-kawasan wisata ini, agar proyek yang dibangun dengan dana miliaran ersebut tidak terbengkalai begitu saja. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>                                                                        </span>*****</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">            </span></span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ariefara.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ariefara.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariefara.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariefara.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariefara.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariefara.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ariefara.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ariefara.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ariefara.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ariefara.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariefara.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariefara.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariefara.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariefara.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariefara.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariefara.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariefara.wordpress.com&amp;blog=2766115&amp;post=26&amp;subd=ariefara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariefara.wordpress.com/2008/09/02/wisata-air-krueng-aceh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8dde7589b1eb2e4fa6892c0247faf3dd?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ariefara</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>home</title>
		<link>http://ariefara.wordpress.com/2008/02/07/home-2/</link>
		<comments>http://ariefara.wordpress.com/2008/02/07/home-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Feb 2008 04:11:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariefara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariefara.wordpress.com/2008/02/07/home-2/</guid>
		<description><![CDATA[TRILOGI     Tsunami-Mengenang yang Terkasih, Widya dan Aditya Tulisan mengenang tragedi tsunami yang meluluhlantakkan Aceh 26 Desember 2004 lalu. Kisahku yang harus terpisah dengan kedua anakku terkasih, serta sepupuku yang manis.     I. PERJUANGAN MENYELAMATKAN SELEMBAR NYAWA  Catatan Arief RahmanMedan, 31 Desember 2004 Sabtu 25 Desember 2004, bertepatan dengan perayaan Natal tahun 2004, berbagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariefara.wordpress.com&amp;blog=2766115&amp;post=19&amp;subd=ariefara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><span><font size="3"><font face="Times New Roman">TRILOGI</font></font></span></h1>
<h1><span><font size="3"><font face="Times New Roman"></font></font></span> </h1>
<h1><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></h1>
<h1><font size="3"><font face="Times New Roman"><span>Tsunami-</span><span style="font-weight:normal;">Mengenang yang Terkasih, Widya dan Aditya</span></font></font></h1>
<p><span><font face="Times New Roman">Tulisan mengenang tragedi tsunami yang meluluhlantakkan Aceh 26 Desember 2004 lalu. Kisahku yang harus terpisah dengan kedua anakku terkasih, serta sepupuku yang manis. </font></span></p>
<h1><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></h1>
<h1><span><font size="3" face="Times New Roman"></font></span> </h1>
<h1><span><font size="3"><font face="Times New Roman">I. PERJUANGAN MENYELAMATKAN SELEMBAR NYAWA <span id="more-19"></span></font></font></span></h1>
<p><span><font face="Times New Roman"> </font></span><span><font face="Times New Roman">Catatan Arief Rahman</font></span><span><font face="Times New Roman">Medan, 31 Desember 2004</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span><font face="Times New Roman"><b><span>Sabtu </span></b><span>25 Desember 2004, bertepatan dengan perayaan Natal tahun 2004, berbagai rencana telah kami atur, khususnya untuk persoalan rumah yang baru kami tempati, yang telah selesai kami bangun sekitar 85-90%, dan persoalan syukuran untuk rumah baru dan ulang tahun si kecil, yang genap satu tahun pada 31 Desember 2004 nanti.</span></font><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Yang diputuskan, Jumat 31 Desember 2004, kami akan menyembelih seekor kambing, untuk kenduri anak yatim sekitar 10 orang, serta<span>  </span>menjamu tetangga baru, sebagai wujud rasa syukur serta perkenalan sebagai penduduk baru di komplek Kajhu Indah Nanggroe Cemerlang, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar. Kebetulan kami diterima sebagai warga RT IV di kompleks tersebut.</font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Sebelumnya Jumat 24/12, aku dan istriku, setelah mengunjungi Ketua Komplek, Drs Nasir Zalba, menemui Ketua RT IV, Pak Anwar Puteh, untuk melaporkan diri dan mencari informasi mengenai berbagai kewajiban yang harus kami penuhi dan aturan-aturan yang harus kami patuhi. Termasuk soal kewajiban fardu kifayah. </font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Ketua RT IV yang akrab dipanggil Pak Wan tersebut menjelaskan beberapa hal, termasuk kewajiban fardu kifayah, diantaranya soal tanah wakaf, yang wajib bagi setiap penghuni komplek. Dan hasil kesepakatan warga, setiap kepala keluarga<span>  </span>(KK) baru<span>  </span>diwajibkan untuk melunasi uang tanah wakaf sebesar Rp.360.000,-, yang boleh dicicil empat kali. Sore itu, aku langsung melunasinya. <span>      </span><span>   </span></font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Malam menjelang hari naas, tidak ada yang khusus yang kupahami sebagai firasat akan terjadinya perpisahan kami sekeluarga. Malam itu, hanya sikecil tidur terlalu gelisah, walau tanpa menangis. Sebelumnya, sejak sore memang Adit selalu memanggil-manggil papa. Tapi baik aku maupun istriku, tidak punya perasaan curiga apapun. </font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Termasuk ketika sepekan belakangan ini si kakak (Widya), ngotot minta untuk di foto yang tidak pernah ku turuti, serta ingin memiliki kamar dan ranjang yang penuh dengan bunga. Hingga hari berakhir dan malam berlalu, tidak ada yang spesial dan khusus.</font></span><span><font face="Times New Roman"><span>                                                            </span>******</font></span><font face="Times New Roman"><b><span>Cerahnya</span></b><span> cuaca dipagi Minggu<span>  </span>(26/12) serta ketenangan alam ternyata menyimpan sesuatu dan merupakan tanda-tanda akan munculnya murka Tuhan. Sama sekali tidak ada yang menduganya, tidak juga keluargaku. Kami tetap memulai hari dengan menikmati segelas kopi bersama kedua anak dan istri serta seorang sepupu.<span>       </span>Bayangan minggu yang indah mulai berubah ketika gempa dengan kekuatan lebih 8,9 skala richter mengguncang Aceh, sekitar pukul 07.55 hingga 08.03 wib. Serta disusul lagi dengan gempa susulan yang terjadi beberapa kali.</span></font><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Meski guncangan gempa cukup besar, hingga mampu menumpahkan air dalam bak mandi yang hanya terisi seperempatnya, namun warga di sekitar komplek, yang berjarak sekitar 8 Km dari kota Banda Aceh, tidak melihatnya sebagai sebuah pertanda akan datangnya bencana yang lebih besar.</font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Kepanikan baru muncul ketika 30 menit kemudian terdengar suara gemuruh ombak yang tidak seperti biasanya. Padahal jarak perumahan dengan pantai lumayan jauh, hampir satu kilometer. </font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Tanpa mengenakan baju, dan hanya sempat mengatongi HP yang saat gempa kupergunakan untuk mengontak BMG, saya instruksikan istri saya untuk mengambil baju dan dompet. Selanjutnya untuk membawa lari kedua anak kami bersama seorang sepupu yang tinggal di rumah sejak kami menempati rumah baru kami, yang baru 90% selesai kami bangun di kompleks tersebut. </font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Saya sendiri, menstarter motor Supra Fit warna biru yang baru sebulan kami beli, dengan Nopol BL 6075 AI. Selanjutnya menuju jalanan untuk membawa lari kedua anak kami. Namun naas, sesampainya di jalanan, jalanan sudah macet akibat banyaknya kendaraan dan orang yang masing-masing ingin lari sejauh-jauhnya dari ombak.</font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Saya sendiri hanya sempat menyentuh bahu sepupu saya, dengan maksud untuk meraih si kecil. Begitu pula istri saya, hanya sempat memegang tangan si kecil. Sedangkan sisulung (kakak) dengan wajah lugu tanpa mengerti apa yang terjadi, memegang erat kain celana yang dikenakan sepupu kami, sebelum secara tiba-tiba air miliaran kubik menimpa kami yang berada di jalanan. Semua gelap saat itu. Saling<span>  </span>terpisah, tenggelam dalam lautan gelombang Tsunami.</font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span><b>Antara Hidup dan Mati</b></font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Tenggelam dalam hempasan ombak Tsunami, selanjutnya menjadi sebuah perjuangan individu antara hidup dan mati. Apa lagi saat berada di bawah air akibat hempasan badai. Nyaris membuat putus asa dan pasrah atas apapun yang akan terjadi. </font></span><span><font face="Times New Roman">Entah beberapa menit tenggelam akibat hempasan gelombang yang pertama, lalu datang mukzizat Allah, karena tiba-tiba aku muncul dipermukaan, walau hanya beberapa detik. Dan moment tersebut kupergunakan untuk mengambil napas yang panjang, yang ternyata juga menghidupkan kembali semangat untuk terus hidup. </font></span><span><font face="Times New Roman">Dengan kesadaran yang masih penuh, aku berjuang untuk menyelamatkan selembar nyawa yang melekat di badan. Sementara anggota keluarga yang lain entah berada di mana. </font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Berkali-kali dihempas gelombang dan timbul tenggalam bersama berbagai jenis benda yang juga merupakan ancaman, sebab ketika kita muncul ke permukaan, tak jarang benda-benda tersebut datang secara tiba-tiba dan menghantam kepala atau wajah maupun tubuh kita. Namun tidak menyurutkan semangat untuk terus hidup.</font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Bahkan ketika seutas kabel listrik transmisi (TM) menjerat tubuh bagian atas, sementara arus air terus mendorong dengan keras, yang mengakibatkan aku tenggelam hingga beberapa menit, belum membuat aku pasrah, walupun bayangan kematian kembali melintas, sebab berbagai upaya yang kulakukan untuk melepaskan diri dari jeratan kabel listrik, terasa tidak membawa hasil. </font></span><span><font face="Times New Roman">Apalagi selain tubuh kurus ini, semakin lama semakin banyak benda yang tersangkut di kabel tersebut. Syukurnya, ketika asa hampir putus, ada benda keras yang menghantam bagian belakang tubuhku, tepatnya di bagian paha atas. Hantaman ini ternyata membuat jeratan kabel mengendur, dan saya berhasil meloloskan diri dan mengapung ke permukaan. </font></span><span><font face="Times New Roman">Namun bukan berarti kebebasan tersebut sebagai kemenangan. Sebab, saya masih harus berjuang lagi menghindari benturan dan hantaman berbagai benda, baik yang ada di depan atau yang tiba-tiba muncul dan menimpa dari atas kepala. </font></span><span><font face="Times New Roman">Episode pertama ini baru berakhir ketika kekuatan akhir gelombang Tsunami mendorong tubuh yang sudah lelah dan lemah ini berikut sejumlah benda lainnya pada setumpukan kayu, seng, kulkas dan ribuan jenis benda lainnya yang tersangkut pada barisan pohon kelapa.</font></span></p>
<h2><span><font size="3" face="Times New Roman">Berkah Yassin dan Takbir</font></span></h2>
<p><span><font face="Times New Roman">Tenangnya air bukan berarti selesai sudah ancaman. Tubuh yang kurus ini dengan mudah diselipkan oleh gelombang disela-sela kayu rumah yang terbongkar dan hanyut. Sementara di bagian belakang setumpukan kayu serta benda-benda lainnya menekanku, sehingga aku sulit untuk bergerak.</font></span><span><font face="Times New Roman">Hanya sebatas leher ke atas dan kedua lenganku yang berada diatas air, dan masih bebas bergerak. Sedangkan anggota tubuh yang lain terjepit kayu-kayu dan berada dalam air. Meski pasrah, aku tetap tidk mau untuk mati konyol. </font></span><span><font face="Times New Roman">Aku terus menerus mencoba untuk melepaskan diri dari jepitan kayu-kayu yang membuat aku tidak bisa bergerak, Sementara kedua tanganku yang tetap kuupayakan berada di atas air, terus mencoba menyingkirkan tumpukan kayu yang berada di atas kepala. </font></span><span><font face="Times New Roman">Lelah melepaskan diri dan tidak juga berhasil, aku mulai pasrah. Apalagi air mulai tenang, tidak lagi berombak dan berarus. Aku hanya berharap, gelombang yang menghempaskanku ke sela-sela tumpukan kayu tersebut merupakan gelombang terakhir. Namun rasa cemas akan kemungkinan datangnya gelombang lain tetap ada. </font></span><span><font face="Times New Roman">Dalam keadaan yang tidak menentu tersebut, terdengar suara perempuan membaca Surat <i>Yassin</i> di sebelah kiri bagian belakang tubuhku. Tidak ada yang luar biasa memang, sebab selama diombang-ambingkan ombak badai Tsunami maupun saat terdampar di sela-sela tumpukan kayu tersebut, gema takbir maupun asma Allah dan alunan <i>Yassin</i> terus terdengar bergema di mana-mana. </font></span><span><font face="Times New Roman">Namun suara bacaan <i>Yassin</i> kali ini membuat semangatku untuk dapat lepas dari jepitan kayu kembali bangkit. Suara orang yang menggemakan surat <i>Yassin</i> tersebut sangat persis dengan suara istriku. Rasa bahagia akan bertemu istri setelah sebelumnya terpisah, memberikuku kekuatan untuk kembali berusaha melepaskan diri dari jepitan kayu-kayu tersebut. </font></span><span><font face="Times New Roman">Setelah beberapa saat berusaha, tetap tak membuahkan hasil. Lalu dengan sisa-sisa kekuatan<span>  </span>terakhir, diiringi dengan teriakan takbir, “Allahu Akbar”, aku kembali menggerakkan badan untuk meloloskan diri. Alhamdulillah, aku merasa ada sepotong kayu yang menjepitku sedikit melonggar.</font></span><span><font face="Times New Roman">Dengan penuh keyakinan, aku mulai melepaskan anggota tubuhku yang terjepit sedikit demi sedikit, hingga akhirnya aku bisa meloloskan seluruh bagian tubuhku dari jepitan dan naik ke atas tumpukan kayu, kemudian melihat sekeliling untuk menemukan sumber suara yang telah memberikanku kekuatan.</font></span><span><font face="Times New Roman">Meski ada rasa kecewa, namun aku berterima kasih pada wanita yang telah menggemakan Surat <i>Yassin</i> di saat aku dalam saat-saat yang kritis. Dia bukan istriku, tapi alunan Surat <i>Yassin</i> yang dikumandangkannya telah memberiku kekuatan. Sampai hari ini aku tidak tahu, apakah dia selamat atau tidak, (hanya Allah SWT yang maha tahu).</font></span><b><span><font face="Times New Roman">“Ka Ijak Lhom&#8230;&#8230;&#8230;..!”</font></span></b><span><font face="Times New Roman">Sambil beristirahat di atas tumpukan kayu, aku terus berzikir dan berdoa, semoga keluargaku diselamatkanNYA, dan kami dipertemukan kembali. Selebihnya, kami yang berada di lokasi tersebut sekitar belasan orang, mulai mengucap syukur, karena mengira bencana telah berakhir.</font></span><span><font face="Times New Roman">Namun tidak berlangsung lama, karena beberapa menit kemudian seseorang berteriak dan ketakutan, “Ya Allah, ka ijak lhom &#8230;&#8230;! (Sudah datang lagi),” katanya.<span>  </span>sambil dengan panik memanjat ke pucuk pohon kelapa. Sambil menahan sakit di leher akibat jepitan kayu, aku menoleh kebelakang dan&#8230; “Allahu Akbar,” gelombang yang tingginya lebih kurang 3 meter dari atas air yang semula tenang, datang dari arah Kanan (Lampulo atau Ulhelheu), dan hanya berjarak belasan meter di belakang kami. </font></span><span><font face="Times New Roman">Dengan sigap kami masing-masing mencari perlindungan dan meraih apa saja yang mungkin dapat menyelamatkan kami. Dengan meraih sebuah jerigen ukuran 20 liter, dan melemparkan galon air mineral kepada seorang wanita yang memintanya, aku kemudian berlari dan merangkul pohon kelapa terdekat. </font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Bersamaan dengan keberhasilanku merangkul pohon kelapa, saat itu pula ombak datang menerjang kami. Pohon kelapa tersebut tidak kuat untuk menahan hantaman ombak yang mendorong belasan ton benda yang tersangkut diantara pepohonan. Langsung saja dia roboh dan mencampakkan kami semua yang berada di situ. Dimulailah episode ke II melawan ganasnya gelombang Tsunami. </font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Namun ternyata tidak berlangsung lama. Hanya terhitung belasan menit, badai tahap ke dua ini berakhir, setelah mnghentikan aku pada sebatng pohon kelapa yang menjadi rem bagi lajunya tubuhku. Beberapa saat aku bertahan di pohon kelapa tersebut sambil tetap memegang jerigen. </font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Khawatir akan ada gelombang susulan seperti sebelumnya, aku nekat melompat ke air dan berenang ke sebuah pohon yang tidak kukenal jenisnya, dengan tetap memegang jerigen (jerigen ini baru ku lepas kemudian setelah aku dievakuasi ke Masjid Jami’ Tungkop, Darussalam). Lalu aku memanjat dan tidur telungkup pada sebuah cabang yang paling dekat yang dapat kuraih.</font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Hampir satu jam aku beristirahat di pohon tersebut, dengan hidung dan mulut terus mengeluarkan darah bercampur lumpur, sampai akhirnya kusadari kalau air sudah surut hingga hanya mencapai sekitar 1,5 meter. Keyakinan akan ketinggian air ini kuperoleh setelah sebelumnya aku melihat posisiku dengan tumpukan kayu, seng dan kasur serta benda lainnya yang berada di bawah pohon semakin jauh. </font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Setelah turun sampai ke tumpukan kayu, aku lalu mengukur kedalaman air dengan menggunakan kayu. Yakin air tidak dalam, ditambah lagi dengan banyaknya orang yang mulai melakukan perjalanan untuk meninggalkan lokasi mereka terdampar, membuat aku melakukan hal yang sama.</font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Setelah berjalan dalam lautan air lebih kurang sejauh 300 meter, akhirnya aku tiba di daratan terdekat, Desa Tanjong Selamat, Darussalam, Banda Aceh. Dengan langkah yang semakin berat karena kelelahan, sejumlah warga sekitar membawaku ke jalan desa, untuk kemudian di evakuasi dengan menggunakan sepeda motor menuju Masjid Jami’ Tungkop, Darussalam, sekitar pukul 12,30 wib, Minggu 26 Desember 2004. </font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman"><span>                                                            </span>******</font></span></p>
<h1><font size="3"><font face="Times New Roman"><span>Tsunami-</span><span style="font-weight:normal;">Mengenang yang Terkasih, Widya dan Aditya</span><span></span></font></font></h1>
<h1><span><font size="3"><font face="Times New Roman">II. PERJUANGAN LAIN DI KAMP PENGUNGSIAN</font></font></span></h1>
<p><span><font face="Times New Roman"> </font></span><span><font face="Times New Roman">Catatan Arief Rahman</font></span><span><font face="Times New Roman">Medan, 3 Januari 2005</font></span></p>
<h1><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></h1>
<p style="text-indent:0;margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><font face="Times New Roman"><b><span>Setelah</span></b><span> diombang-ambingkan badai Tsunami hampir satu jam lebih, akhirnya aku berhasil menyelamatkan diri dari seretan arus, setelah dengan susah payah dan sedikit nekat menabrakkan tubuhku pada sebatang pohon kelapa yang kelihatannya cukup kokoh. Namun karena khawatir akan datangnya badai susulan, seperti yang terjadi sebelumnya, aku kemudian berenang mendekati sebatang pohon yang tidak kuketahui namanya, lalu memanjat ke dahan yang terdekat dan beristirahat. </span></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Setelah melepaskan lelah hampir satu jam dengan menelungkup di dahan, aku kemudian berjalan menyeberangi sekitar 300 meter genangan air. Akhirnya aku tiba di daratan, yang menurut warga merupakan kawasan Desa Tanjong Selamat, Darussalam, Aceh Besar.<span>  </span>Setelah menenggak air kelapa yang hanya berhasil aku tampung sebanyak satu teguk, aku kemudian meneruskan perjalanan menyusuri jalan desa, sampai akhirnya warga desa mengevakuasi ke Masjid Jami’ Tungkop, Darussalam.</font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Sesampainya di masjid petugas posko kemanusiaan yang didirikan PKS Darussalam langsung menggiringku menuju pos kesehatan. Setelah memberiku segelas air putih, mereka kemudian mengoleskan Betadhin pada luka yang terdapat di sekujur tubuhku, yang sebagian besar merupakan luka goresan. </font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Sejak aku tiba di posko, sekitar pukul 12.30 wib, tidak banyak yang dapat aku lakukan selain berbaring untuk memulihkan stamina. Dengan hanya mengenakan celana pendek tanpa baju, aku terbaring di bagian bawah masjid, hingga pukul 16.00 wib, ketika kurasakan kondisiku mulai membaik, barulah aku keluar untuk mencari keluargaku, yang mungkin terdapat di bagian lain masjid. </font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Hingga pukul enam sore aku terus membolak-balik penutup setiap mayat yang datang di depan biro rektor Unsyiah. Meski terus mencari, namun secara jujur aku akui, aku tidak berharap untuk menemukan mereka dalam tumpukan mayat tersebut. Namun demikian, aku terus mencari dan memburu setiap mayat yang datang. </font></span></p>
<p><b><span><font face="Times New Roman">Melawan Haus dan Lapar</font></span></b></p>
<p style="text-indent:0;margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><font face="Times New Roman"><b><span><span>            </span></span></b><span>Tiga hari di penampungan, ternyata bukan saat yang singkat. Penderitaan batin yang dirasakan mengalahkan penderitaan lahir yang jelas terlihat dengan bekas-bekas di tubuh. Tiga hari terasa bagaikan tiga tahun, kedinginan, kelaparan, serta kehausan, semakin melengkapi penderitaan yang dirasakan. </span></font></p>
<p style="text-indent:0;margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Pertama masuk ke posko pengungsi yang di kelola PKS Darussalam ini, setelah diberi perawatan ala kadarnya, aku langsung dibekali sebungkus mie instant, untuk pengganjal perut. “Ini untuk jaga-jaga Pak ya,” demikian diutarakan seorang petugas posko yang membagikan makanan tersebut. </font></span></p>
<p style="text-indent:0;margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Dan memang, ternyata mie instant tersebutlah yang merupakan makan siang sekaligus makan malam dan sarapan pagi esoknya. Sebab, setelah menerima mie tersebut, hingga keesokan harinya, aku tidak menerima makanan apapun. Namun semua itu masih dapat diterima, mengingat kondisi posko sendiri memang dibuka secara swadaya. </font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Senin pagi, sekitar pukul 06.15 wib, Allah SWT memperlihatkan kebesarannya. Saat aku hendak turun ke kamar mandi masjid — biasanya aku keluar masjid dari tangga samping —<span>   </span>seseorang menggamit tanganku dan mengatakan ada yang memanggil, sambil menunjuk ke belakangku. Ketika aku menoleh kebelakang itulah aku melihat istriku terduduk lemas, dengan kaki kanan yang terluka cukup parah. </font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Setelah melepaskan tangis, aku kemudian membawa istriku turun menuju pos kesehatan untuk mendapatkan perawatan yang memadai. Namun karena ketiadaan persediaan obat yang memadai, istriku hanya mendapat perawatan alakadarnya. Setelah lukanya dibersihkan dengan air, lalu diberi Bethadin secukupnya, luka istriku kemudian dibalut dengan kain kasa yang sangat tidak memadai. </font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman"><span> </span>Pada hari kedua ini, aku memiliki semangat yang lebih baik di bandingkan kemarin Walaupun kondisi kesehatan semakin turun, ditambah lagi perut masih terus kosong. Naman dengan keberadaan istri disampingku, semua itu tidak lagi aku rasakan. Aku terus bertekad untuk dapat bertahan, untuk mencari dan mengumpulkan keluargaku kembali.</font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Siang hari kedua ini kami memperoleh ransum untuk pengganjal perut berupa dua potong roti kabin untuk berdua. Sedangkan air minum, aku harus naik turun mencarinya ke dapur umum, yang tidak pernah jelas lokasinya. Hari itu aku ketemu rekan sesama wartawan, Sahrul Tanjung. Padanya kutitipkan pesan untuk menyampaikan kondisiku ke posko wartawan di PWI, agar mereka dapat segera<span>  </span>melakukan evakuasi. Namun baru pada hari ke tiga (Selasa) kami di evakuasi ke posko PWI oleh rekan wartawan, diantaranya Yayan dari Elshinta dan Fajaruddin Idris dari Analisa medan.</font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Sebelumnya pada hari Selasa pagi aku masih menyempatkan diri untuk kembali mencari kepastian tentang nasib anak-anakku, Widya keumala Sari (7,5 th) dan Muhammad Aditya Rahman (1 th), serta sepupuku<span>  </span>Suriati (22 th), dengan berjalan kaki dari masjid Tungkop hingga ke masjid Lambaro Angan. </font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Namun sesampainya di sana, bukannya menemukan anak-anakku, warga desa tersebut malah sudah tidak berada di desa tersebut. Mereka juga sudah mengungsi karena tak tahan dengan bau mayat yang berserakan, bukan saja di halaman mesjid, tapi juga di jalan-jalan desa. </font></span></p>
<p><b><span><font face="Times New Roman">Kehilangan Rasa Peduli</font></span></b></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Kondisi kritis akibat ketiadaan obat-obatan, bahan makanan, dan air bersih, ternyata masih membuat sebagian warga yang menghuni posko pengungsian di masjid Tungkop kehilangan kepedulian terhadap sesama. Bahkan masih ada yang dapat menikmati makan malam dengan lahap, sementara di sebelahnya terbaring orang lain, yang jangankan makanan, sekedar air putihpun tidak ada. </font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Selama tiga hari aku berada di lokasi tersebut, hanya dua kali aku menikmati makan nasi. Yang pertama pada malam ketiga, ketika warga desa yang sama denganku, Kajhu, memberiku sepiring nasi yang kemudian kusantap berdua dengan istriku. Makanan dengan sayur nangka yang sudah sedikit basi tersebut, tetap kusantap, mengingat kondisiku saat itu sudah begitu lemah, terserang demam. </font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Nasi kedua kusantap pada hari ke tiga, sekitar pukul 15.00 wib. Setelah anak tetangga yang selamat berhasil antri untuk mendapatkan ransum nasi plus mie instant. Itupun setelah melalui perjuangan yang cukup berat untuk antri dan berdesakan, dan menahan sakit akibat terdorong kesana-kemari.</font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Posko pengungsian di masjid Tungkop, jika malam hari terisi cukup banyak orang, sehingga tidurpun kaki harus dilipat. Sebagian malah tidur dengan duduk. Sementara pada siang hari hanya beberapa gelintir orang yang berada di masjid. Yang bertahan siang malam ini umumnya mereka yang sudah tidak punya rumah lagi, karena digulung Tsunami, dan berada di lokasi yang lumayan jauh dari Darussalam.</font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Sedangkan yang malam datang siang pulang adalah warga sekitar kampus Unsyiah dan IAIN, sebagian besar mahasiswa, yang mengungsi karena takut datangnya Tsunami susulan, serta mereka yang sebagian rumahnya terkena genangan air. Tentu saja mereka masih bisa menanak nasi, membeli air mineral dan roti. Sedangkan korban yang mengungsi karena rumahnya hilang, tidak punya apa-apa lagi untuk membeli makanan.</font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Sehingga pemandangan yang terlihat di dalam masjid sungguh sangat menyedihkan. Banyak orang yang dapat makan nasi, dengan lauk yang nikmat, entah mereka masak sendiri atau mereka membeli, sementara di sebelahnya ada yang sama sekali belum makan sejak dua hari lalu, tapi tidak ada satu tawaranpun untuk makan bersama.</font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Sungguh sangat menyedihkan memang. Musibah ini dihadapi dan dirasakan bersama-sama. Sedangkan penderitaan yang dirasakan banyak berbeda. Ada yang masih memiliki segalanya, ada yang hanya tersisa sebagian, ada pula yang habis sama sekali. Namun ternyata tidak juga melahirkan kesadaran untuk mau saling merasakan penderitaan orang lain. </font></span></p>
<p><b><span><font face="Times New Roman">Naik Turun</font></span></b></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Kondisi korban yang tidak menentu di posko pengungsian masjid Tungkop, selain membuat sedih, juga memilukan hati. Para pengungsi selain mengalami krisis obat, juga mengalami krisis pangan. Banyak pengungsi yang sama sekali tidak makan dan minum. Namun dengan berbagai alasan, mereka tetap bertahan. </font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Pemandangan yang menarik dan kerap terjadi di posko tersebut, para pengungsi yang berlarian naik turun masjid. Hal itu terjadi karena rasa takut dan trauma yang mereka alami, sehingga ketika gempa susulan datang mereka akan berlarian keluar masjid, untuk menyelamatkan diri dari kemungkinan tertimpa runtuhan masjid. </font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Namun tidak lama kemudian, mereka akan kembali berlarian masuk masjid dengan rasa takut yang luar biasa. Hal itu terjadi karena mereka merasa takut dengan datangnya air bah susulan pasca gempa. Hal seperti ini berkali-kali terjadi, tidak hanya pada siang hari, tapi juga pada tengah malam. </font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Kondisi super panik ini tidak lagi mengganggu aku dan istriku. Kami tidak lagi khawatir akan kemungkinan runtuhnya bangunan masjid. Hal itu disebabkan keyakinan atas apa yang terlihat, bahwa sejak gempa terjadi hingga datangnya gelombang Tsunami, masjid di desa kami, Kajhu, tidak retak sama sekali. Makanya kami yakin masjid Tungkop-pun tidak akan runtuh. </font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">“Kalau memang ajal kita di masjid ini, karena tertimpa runtuhannya akibat gempa, biarlah. Tapi yang pasti, belum ada masjid yang kita dengar runtuh karena gempa dan Tsunami ini,” kata istriku yakin. </font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><span><font face="Times New Roman">Dan keyakinan itu terbukti. Hingga kami di evakuasi ke Medan pada hari ketiga. Beberapa kali gempa susulan terjadi, masjid Tungkop tetap gagah berdiri. Semoga, kekuatan dan kesabaran serta imanku sekuat dan sekokoh masjid Kajhu, yang tak retak dihantam gempa atau diterjang Tsunami.</font></span></p>
<p><span><font face="Times New Roman"><span>                                                            </span><span>      </span>******</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<h1><font size="3"><font face="Times New Roman"><span>Tsunami-</span><span style="font-weight:normal;">Mengenang yang Terkasih, Widya dan Aditya</span><span></span></font></font></h1>
<h1><span><font size="3"><font face="Times New Roman">III. SEMUANYA TAK LAGI BERSISA</font></font></span></h1>
<p><span><font face="Times New Roman"> </font></span><span><font face="Times New Roman">Catatan Arief Rahman</font></span><span><font face="Times New Roman">Medan, 19 Maret 2005</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span><span><font face="Times New Roman">Gelombang tsunami yang meluluh lantakkan sebagian wilayah Aceh, ternyata tidak hanya menghancurkan harta bendaku, termasuk rumah yang baru selesai ku bangun dan kutempati hanya 39 hari, tapi juga merenggut kedua kekasihku, Widya keumala Sari (7,5 th) dan Muhammad Aditya Rahman (360 hari). </font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Atas kehendak Allah SWT, tsunami yang menghantam keluargaku, hanya menyisakan aku dan istriku, serta meninggalkan sepasang pakaian yang dikenakan istriku, dan sepotong celana pendek yang kukenakan. Menjadikan kami kembali pada titik nol, dan harus memulainya lagi dari awal. </font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Meski berada dalam kesedihan, namun ketabahan istriku serta tekadnya untuk tetap melanjutkan hidup, walau harus mengulangnya dari awal, membuat kami semakin kuat untuk mengarungi cobaan ini bersama-sama. </font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Hidup baru ini, kembali kami awali sejak 6 Maret 2005, ketika kami kembali ke Banda Aceh, setelah dinyatakan boleh berhenti berobat oleh dr Edok Sudagdo, spesialis bedah yang merawat istriku selama di Medan, selama dua bulan lebih. </font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Mahalnya harga sewa rumah di Banda Aceh pasca tsunami, mengharuskan kami menyewa sebuah kamar, karena memang itu kemampuan yang kami miliki saat ini. Sebab, kami memang sudah tidak punya apa-apa lagi. Bantuan-bantuan dari mereka yang simpati pada kami, terutama dari kalangan rekan-rekan wartawan, habis untk biaya rumah sakit plus obat-obatan yang mencapai Rp.17.119.000,- serta biaya berobat jalan yang rata-rata Rp.1.000.000,- seminggu. </font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Semuanya memang tak lagi bersisa. Rumah yang kami bangun di Komplek Kajhu Indah Nanggroe Cemerlang, yang baru kami tinggali hanya berbilang hari, tempat yang kami rencanakan sebagai tempat kami merajut masa depan, hanya menyisakan pondasi. Tidak ada apapun yang tertinggal, selain hanya kenangan indah ketika 39 hari bersama di rumah itu.</font></span><span><font face="Times New Roman"><span>                                                            </span>*****</font></span><span><font face="Times New Roman">Sebagai seorang suami, aku merasa bangga, karena setelah delapan tahun perkawinan ku dengan istriku, Samsidar, yang kunikahi 1 April 1996 lalu, selain telah dikaruniai dua orang anak, Widya Keumala Sari yang lahir pada 19 Agustus 1997, dan Muhammad Aditya Rahman, yang lahir 31 Desember 2003, aku juga berhasil membangun rumah tinggal sederhana untuk keluargaku. </font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Sebelumnya, sejak Widya berusia lima bulan, aku memboyong istriku untuk pindah ke Banda Aceh, dan menabukan tinggal menumpang di rumah mertua, di Sigli. </font></span><span><font face="Times New Roman">Dengan penghasilan yang tidak menentu saat itu, apalagi kontrak kerjaku dengan PT Sinar Permata Deli (SPD), yang mengkoordinir liputan berita TPI untuk wilayah Sumatera telah berakhir pada Juni 1996, aku benar-benar berada dalam posisi sulit. Namun pesan almarhum ayahku untuk tidak bergantung pada keluarga istri begitu kuat. </font></span><span><font face="Times New Roman">Makanya aku nekad memboyong istri dan anak pertamaku untuk tinggal bersamaku di kamar kontrakanku di kawasan Kampung Keramat, Banda Aceh. Padahal kala itu istriku sudah bekerja di Sekretariat DPRD Pidie. “Jangan pernah sekali-kali hidup dengan menikmati hasil keringat istrimu. Itu akan membuatmu malas bekerja.” Itulah nasehat almarhum ayah yang tetap kupegang. </font></span><span><font face="Times New Roman">Sementara untuk menghidupi keluargaku, aku bergantung tok pada penghasilan sebagai korespondent lepas Tabloid Hikmah Pikiran Rakyat Bandung, yang tidak tetap. Kadang ada kadang tidak. </font></span><span><font face="Times New Roman">Dan Allah SWT ternyata masih sayang padaku. Genap saat anakku berusia satu tahun, aku nekad mencari rumah sewa, yang bukan hanya sekedar kamar. Sebulan mencari, aku menemukan rumah sederhana yang kusewa dengan harga saat itu Rp.550.000,- pertahun, di daerah Simpang Surabaya, Banda Aceh. Rumah sederhana dengan dua kamar tersebut kusewa selama dua tahun.</font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span><b>Dimulai Dari Nol</b></font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Dirumah ini, kehidupan kami sebagai keluarga kami mulai dari nol. Berbekal sebuah kompor, sebuah wajan, sebuah panci, serta setengah lusin piring dan gelas bantuan mertua, kami memulai hidup baru sebagai layaknya sebuah keluarga. Sementara rumah yang terbilang besar saat itu bagi kami yang masih bertiga, kosong melompong tanpa isi apapun. </font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Untuk membuat rumah tersebut seperti lapangan bola, karena tidak ada perabotan apapun, aku memanfaatkan waktu luangku untuk membuat sendiri beberapa perabotan rumah tangga dari kayu. Seperti lemari pakaian, lemari hias untuk ruang tamu, serta meja dan ranjang. </font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Namun masih juga rumahku terlihat bukan seperti rumah orang kebanyakan. Bahkan aku sempat terlecut ketika mertuaku datang berkunjung dan berujar, “Rumah kok enggak ada apa-apanya. Kemana kalian habiskan uang kalian. Orang lain juga wartawan, tapi rumahnya ada perabotannya,” kata mertuaku. </font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Kata-kata tersebut sungguh membuat aku malu, dan melecutku untuk lebih bergiat lagi bekerja. Dan semuanya diawali ketika aku diajak untuk menggarap kelahiran Mingguan Aceh Ekspres, sebuah koran daerah, yang semula diprediksikan untuk terbit harian, awal tahun 1998. </font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Saat bekerja di SKM Aceh Ekspres inilah aku mampu mengisi rumahku dengan barang-barang yang merupakan perabot tetap di sebuah keluarga. Aku mulai membeli sebuah TV bekas 14 inch dan mengembalikan TV hitam putih sumbangan mertua. Lalu sebuah kulkas, tape recorder, hingga peralatan dapur masa kini—yang semuanya membuat wanita kurang kreatif—bahkan TV bekas yang kubeli pertama dapat kutukar dengan TV baru ukuran 20 inch. </font></span><span><font face="Times New Roman">Bahkan aku mulai bisa menabung sedikit demi sedikit. Apalagi istriku terbilang cukup ahli dalam mengatur manajemen keuangan keluarga. Maklum, Dia jebolan SMEA. Tentunya menguasai betul prinsip ekonomi.</font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Pertengahan tahun 2000, MBM Gamma yang tidak lagi memiliki reporter di Aceh (setelah dua orang reporter Aceh mereka tarik ke Jakarta) mengajak aku untuk bergabung menjadi stranger di Aceh. Kupikir ini peluangku untuk berkarir lebih baik di dunia jurnalistik, makanya tawaran ini tidak ku tolak. </font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Jadilah aku wartawan yang merangkap di dua media, yakni Aceh Ekspres dan Gamma. Barulah pada akhir tahun 2000 aku tidak lagi merangkap, karena Aceh Ekspres tutup, yang tak lama kemudian disusul dengan tutupnya MBM Gamma, tahun 2002. Aku kemudian berkarir di koran Sumut Pos, hingga Maret 2003 diajak bergabung di Hr. Analisa Medan. </font></span><font face="Times New Roman"><b><span>Lahir Membawa Rezeki</span></b><span></span></font><span><font face="Times New Roman">31 Desember 2003 kebahagiaan keluarga dilengkapi dengan kelahiran putra keduaku, Muhammad Aditya Rahman, putra yang kelahirannya kuanggap sebagai pembawa rezeki bagi keluargaku. </font></span><span><font face="Times New Roman">Bagaimana tidak, pasca kelahiran Aditya, aku berhasil membeli sebidang tanah dengan ukuran 10 x 20 meter, di komplek Mutiara Cemerlang, yang kemudian saat aku bangun rumah, ku beli lagi 3,30 x 20 meter tanah yang berada di samping kanan, agar pas bersisian dengan parit utama. </font></span><span><font face="Times New Roman">Awalnya kutargetkan rumah ini selesai ku bangun sekitar dua tahun. Apalagi memang kontrakkan rumahku baru akan berakhir September tahun 2006. Namun itu tadi, rezeki yang mengikuti kelahiran putra ke duaku ini mengalir dengan deras. Aku bisa menyelasaikan pembangunan rumahku hanya sekitar 5 bulan. </font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Disela-sela [embangunan rumah ini, aku juga mampu membeli sepeda motor baru secara cash. Awalnya aku tidak berniat membeli motor ini. Apalagi aku masih memiliki vesva butut tahun 1978, yang sudah tiga tahun setia menemaniku. Namun atas pertimbangan vesva sering mogok, ditambah lagi Widya sudah semakin jauh untuk pergi dan pulang sekolah, akhirnya kuputuskan untuk membelinya. </font></span><span><font face="Times New Roman">Dan 18 Nopember 2004, bertepatan dengan 5 Syawal 1425 H, aku memboyong keluargaku untuk pindah dan menempati rumah baru kami. Rumah tempat merajut masa depan. Rumah kebanggaan yang akan menjadi tempat awal anak-anak kami melangkahkan kakinya meraih masa depan mereka. </font></span><span><font face="Times New Roman">Dan kekuasaan Allah Swt berada di atas segalanya. Tidak ada kekuatan dan kekuasaan yang mampu menandingi kekuatan sang khalik ini. Minggu 26 Desember 2004, hanya lima hari menjelang HUT pertama Aditya, Allah Swt mengambil kembali semua yang telah DIA berikan<span>  </span>pada kami, tak bersisa!</font></span><b><span><font face="Times New Roman">Kenangan Yang Tertinggal</font></span></b><span><font face="Times New Roman">Widya Keumala Sari, putri pertamaku yang lahir hari Selasa, 19 Agustus 1997 di Sigli, memang bukan anak yang luar biasa. Dia baru bisa berjalan ketika berusia satu tahun lebih seminggu. Setelah lulus TK tahun 2003 dan bersekolah di SD Kartika I/XIX Banda Aceh, yang masuk kategori SD unggulan di Banda Aceh, sejak kelas I hingga Catur Wulan I di kelas II, Widya hanya mampu menempati ranking V dari 63 siswa. Namun Dia sudah mampu mengaji Al-Quran dan sudah hampir mengakhiri zuz I.</font></span><span><font face="Times New Roman">Menurut guru mengajinya, Widya cukup cepat dalam menangkap pelajaran, bahkan cepat dalam menghapal doa-doa yang diajarkan. Bahkan diakui gurunya, Widya sudah hapal bacaan shalat sejak di TK, dan mampu mengerjakan shalat sendiri. </font></span><span><font face="Times New Roman">Selama sepekan sebelum tragedi tsunami merenggutnya dari kami, Widya selalu meminta untuk difhoto. Namun aku tidak menurutinya..”Pa, fhoto Wiya kenapasih Pa. Papa pelit,” pintanya berkali-kali. Permintaannya yang tidak kuturuti ini belakangan melahirkan sesal bagiku. </font></span><span><font face="Times New Roman">Tiga hari sebelum tragedi, Widya juga menginginkan dibelikan ranjang yang penuh dengan taburan bunga. “Pa Widya mau tempat tidurnya yang ditaburi banyak bunga,” katanya. Namun Mamnya mengatakan itu tidak bagus, seperti orang gila. “Enggak Ma, cantik dan wangi lagi kalau banyak bunga di tempat tidur Wiya,” katanya ngotot. Ternyata itu memang firasat yang diberikan Widya pada kami, kalau dia ingin pamitan.</font></span><span><font face="Times New Roman">Dan ketika air pertama kali menyentuh tubuhku, aku masih melihat Widya yang berdiri<span>  </span>di sisi sepupu istriku saat terjebak kemacetan jalanan komplek, memandangku dengan wajah polosnya, tanpa suara, dengan pandangan ikhlas, dengan wajah bersih, seolah tanpa rasa takut dan mengisyaratkan ucapan “Selamat tinggal Papa!” </font></span><span><font face="Times New Roman">Masih banyak permintaannya yang belum terpenuhi. Namun hanya itulah batas kemampuanku sebagai manusia untuk membahagiakan Widya. Dan kini memang saatnya Dia diambil kembali oleh Allah Swt, untuk dibahagiakan di surgaNYA. </font></span><span><font face="Times New Roman">Rabu pagi 31 Desember 2003, kebahagiaanku lengkap sudah, ketika Allah Swt berkenan memberikan aku seorang putra laki-laki, yang kami beri nama Muhammad Aditya Rahman. Belum banyak kenangan memang yang diberikannya dengan usia yang tidak sampai satu tahun. Namun usia yang singkat tersebut ternyata telah merubah jalan hidup kami menjadi terasa lebih lengkap. </font></span><span><font face="Times New Roman">Saat berusia 10 bulan lebih beberapa hari, tepatnya i Syawal 1425 H, atau 14 Nopember 2004, si kecil Adit bisa berjalan. Sama seperti si Kakak, yang juga bisa berjalan ketika akan memasuki rumah baru. </font></span><span><font face="Times New Roman">Dan Adit terlihat begitu pintar. Sebab, ketika hendak tidur malam, dia tahu untuk mengambil pampers dan memberikannya pada <span> </span>Mamanya, untuk dikenakan padanya. Dia juga akan memberitahukan dimana ia pipis, ketika tidak sempat mengajak Mamanya ke kamar mandi. Bahkan Dia tahu untuk kekamar mandi jika hendak pipis. </font></span><span><font face="Times New Roman">Dan setiap pagi, bangun tidur, Adit akan segera keluar kamar sendiri dan menuju teras belakang, untuk kemudian mengambil kain lap dan mengelap motor yang ku parkir di teras. Kenangan-kenangan ini yang<span>  </span>selalu hadir dalam kesepian kami belakangan ini, ketika kami kembali harus memulainya dari titik awal. </font></span><span><font face="Times New Roman"><span> </span>Semoga Allah Swt menjadikan kalian, anak-anakku, sebagai ahli surga dan membahagiakan kalian berdua disurgaNYA. Amin!</font></span><span><font face="Times New Roman"><span>                                                            </span>****** </font></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ariefara.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ariefara.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariefara.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariefara.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariefara.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariefara.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ariefara.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ariefara.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ariefara.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ariefara.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariefara.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariefara.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariefara.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariefara.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariefara.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariefara.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariefara.wordpress.com&amp;blog=2766115&amp;post=19&amp;subd=ariefara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariefara.wordpress.com/2008/02/07/home-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8dde7589b1eb2e4fa6892c0247faf3dd?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ariefara</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tiga Tahun Bencana Nasional di Aceh</title>
		<link>http://ariefara.wordpress.com/2008/02/06/tiga-tahun-bencana-nasional-di-aceh/</link>
		<comments>http://ariefara.wordpress.com/2008/02/06/tiga-tahun-bencana-nasional-di-aceh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Feb 2008 03:23:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariefara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariefara.wordpress.com/2008/02/06/tiga-tahun-bencana-nasional-di-aceh/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh ariefara  Minggu 26 Desember 2004, cuaca di langit lumayan bersahabat. Langit pagi terlihat teduh, meski matahari sudah memancarkan sinarnya. Tidak ada tanda-tanda alam yang melahirkan rasa curiga.             Pukul delapan lewat lima menit pagi, bumi yang tenang tiba-tiba berguncang dengan keras Ketenangan pagi berubah menjadi kepanikan yang luar biasa. Gempa beberapa menit tersebut membuat sebagian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariefara.wordpress.com&amp;blog=2766115&amp;post=5&amp;subd=ariefara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Oleh ariefara</span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Minggu 26 Desember 2004, cuaca di langit lumayan bersahabat. Langit pagi terlihat teduh, meski matahari sudah memancarkan sinarnya. Tidak ada tanda-tanda alam yang melahirkan rasa curiga. </span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"><span></span>Pukul delapan lewat lima menit pagi, bumi yang tenang tiba-tiba berguncang dengan keras Ketenangan pagi berubah menjadi kepanikan yang luar biasa. Gempa beberapa menit tersebut membuat sebagian besar warga ketakuan. Belum lagi banyaknya bangunan yang rubuh, terutama di pusat kota Banda Aceh. <span id="more-5"></span></span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"><span>            </span>Ceritapun mengalir, ketika sekitar 45 menit kemudian gelombang air laut menerjang daratan dengan kecepatan tinggi. Menghantam apa saja yang menghalangi lajunya, meruntuhkan bangunan, membongkar pepohonan hingga akar-akarnya, dan menenggelamkan manusia yang lari kucar-kacir. </span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"><span>            </span>Tsunami yang melanda Aceh pagi itu, menyapu lebih 1000 Km pesisir Aceh, melenyapkan 132 ribu nyawa, dan 37 ribu lainnya hilang. Lebih 120 ribu rumah hancur rata dengan tanah, ditambah ribuan unit bangunan gedung perkantoran, sekolah serta sarana ibadah.</span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"><span>            </span>Hari ini, Rabu 26 Desember 2007, bencana tersebut telah berlalu tiga tahun. Namun masih banyak persoalan yang belum selesai. Masih panjang duka yang dirasakan para korban tsunami yang berada di Aceh. Masih beragam cerita yang mengalir dari para korban yang hidup. </span><b><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Bencana Nasional</span></b><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Bencana gempa berkekuatan 8,9 SR (9,1 SR versi US Geologi) yang dinilai terbesar sepanjang satu dekade ini, ditetapkan pemerintah RI sebagai bencana nasional. Pemerintah lantas menunjuk Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (Bakornas PBP) sebagai pelaksana masa tanggap darurat.</span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, ditunjuk menjadi koordinator kegiatan tanggap darurat yang langsung berkantor di Banda Aceh. Hampir seluruh dunia memberikan bantuan dalam berbagai bentuk kepada masyarakat NAD dan Nias. </span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Misi kemanusiaan yang dilancarkan untuk membantu korban tsunami di Aceh dan Nias pada fase tanggap darurat ini melibatkan 44 negara yang turun secara langsung. Termasuk 16 ribu anggota pasukan asing dalam misi nonperang terbesar setelah Perang Dunia Kedua. </span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Sembilan kapal induk, 14 kapal perang, 31 pesawat terbang, dan 75 helikopter dikerahkan dalam penyelamatan, evakuasi, penyaluran logistik, dan bantuan medis, hingga selesainya fase tanggap darurat yang dinyatakan selesai oleh Presiden RI pada 26 Maret 2005.</span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Pascaberakhirnya fase tanggap darurat, pemerintah menugasi Bappenas untuk mengoordinasi penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi NAD dan Nias, yang ikut melibatkan beberapa lembaga kerja sama internasional dalam penyusunan rencana induk. </span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Selain mengulas dengan detail kebutuhan pembangunan kembali kawasan yang dilanda bencana, dokumen ini menegaskan pentingnya pembentukan sebuah lembaga yang bertugas mengoordinasi dan melaksanakan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh dan Nias.</span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 30 Tahun 2005, tanggal 15 April 2005, Presiden menetapkan Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Aceh dan Nias.</span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">16 April keesokannya, ditetapkan pembentukan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias, melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 2 Tahun2005. </span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Sebagai penguatan dari Perpu ini, diterbitkan Undang-undang Nomor 10 Tahun 2005, dan untuk organisasional dikeluarkan Keputusan Presiden Nomor 63 Tahun 2005, yang menetapkan keanggotaan Dewan Pengarah, Dewan Pengawas, dan Badan Pelaksana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Nanggroe Aceh Darussalam dan Nias.</span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Peraturan perundangan tersebut menjelaskan bahwa Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi ini terdiri atas tiga instrumen, yang masing-masing memiliki peran dan tanggung jawab yang saling melengkapi. </span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Instrumen pertama Dewan Pengarah, yang bertanggung jawab memastikan aspirasi berbagai pihak yang diwakilinya menjadi acuan dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Instrumen kedua Dewan Pengawas, yang bertanggung jawab untuk memastikan bahwa kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan secara efisien, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di wilayah pasca-bencana. Instrumen ketiga Badan Pelaksana, yang bertanggung jawab mengelola kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah pasca-bencana. </span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">BRR mengusung visi &#8220;Mewujudkan masyarakat NAD dan Nias yang Amanah, Bermartabat, Sejahtera, dan Demokratis&#8221;, dengan empat aspek utama sebagai kebijakan dasar sebagai misi BRR. </span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Yakni membangun kembali masyarakat Aceh dan Nias, baik kehidupan individu maupun sosialnya. Membangun kembali infrastruktur fisik dan infrastruktur kelembagaan. Membangun kembali perekonomiannya sehingga dapat berusaha sebagaimana sebelumnya, serta membangun kembali pemerintahan sebagai sarana pelayanan masyarakat.</span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:9pt;font-family:Verdana;">Sedangkan pokok dari mandat BRR adalah m</span></strong><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">elaksanakan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi berdasarkan dokumen pelaksanaan anggaran, serta mengorganisasikan dan mengoordinasi pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pihak lain yg terkait.</span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Berjalankah semua itu?</span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"><span>                                                </span>*****</span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"><span>            </span>Tiga tahun pascatsunami, sesuai progres yang dikeluarkan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias, 102 ribu unit rumah lebih telah selesai dibangun. Penyerahan rumah ke 100 ribu unit kepada warga korban tsunamipun diserahkan melalui sebuah acara yang cukup sebuah acara yang cukup meriah, di Calang, Aceh Jaya, medio Desember lalu.</span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"><span>            </span>Namun demikian, masih banyak persoalan lain yang meyelimuti hari-hari warga Aceh dan Nias yang menjadi korban tsunami. Menurut data KNPI NAD, saat ini masih 3.581 KK lagi warga korban tsunami yang belum mendapat rumah dan masih tinggal di ratusan barak pengungsian. Belum lagi pembangunan rumah yang terbengkalai.</span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Menurut progres BRR, hingga akhir November 2007, jumlah rumah baru yang telah terbangun mencapai 102.691 unit dari 120.000 rumah yang harus dibangun. Lahan pertanian yang telah selesai di rehabilitasi seluas 64.019 Ha (dari total yang rusak sebesar 60.000 Ha), panjang jalan yang telah selesai sepanjang 2.191 km (dari total kebutuhan 3.000 km), pelabuhan laut yang telah selesai di rehabilitasi dan di rekonstruksi sebanyak 17 unit (dari yang rusak sebanyak 14 unit), dan Bandara/Aistrip yang telah selesai sebanyak 10 unit (dari 11 unit yang dibutuhkan). </span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Selain capaian tersebut, jumlah guru yang telah dilatih sampai November 2007 sejumlah 23.095 orang (dari 2.500 orang guru yang meninggal), serta fasilitas kesehatan sejumlah 613 unit dari jumlah yang sebelumnya rusak 127 unit. </span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">“Semua capaian ini hanya bisa diperoleh dengan bantuan dan dukungan masyarakat Aceh dan Nias. BRR sendiri tetap pada komitmennya untuk menyelesaikan tugas sampai April 2009,” kata Kuntoro, saat acara peringatan tiga tahun tsunami, di Calang, Aceh Jaya, Rabu (26/12).</span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Persoalan yang membelit di seputar proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh ini memang sangat beragam. Dari mereka yang belum mendapat rumah, hingga yang rumah bantuan mereka tidak layak huni atau yang pembangunannya terbengkalai. Termasuk di dalamnya soal janji deputi perumahan BRR kepada warga Deah Raya yang diingkari. </span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Ingkar janji ini berbuntut pada perusakan dan pembakaran rumah bantuan Bakrie Group yang terbuat dari asbes untuk warga Deah Raya. Bahkan dua hari pascaperingatan tiga tahun tsunami,<span>  </span>warga Deah Raya kembali membongkar rumahnya karena kesal terhadap BRR. </span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Kondisi tersebut diperparah dengan dugaan terjadi korupsi di BRR serta lemahnya penggunaan anggaran BRR. Informasi terbaru, malah dana bantuan BRR untuk acara peringatan tiga tahun tsunami yang di pusatkan di Calang, Aceh Jaya, sebesar Rp.200 jutapun nyaris ditilep. </span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"><span>            </span>Kisah miring dan miris ini terus mengiringi langkah proses rehab dan rekon di Aceh. Yang menyedihkan, masa tugas BRR di Aceh sudah mendekati masa akhir, yakni hanya tinggal setahun lagi. BRR akan berakhir pada April 2009 mendatang.</span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Dengan waktu yang terbilang sangat singkat tersebut, akankah semua persoalan rehab dan rekon Aceh-Nias dapat terselesaikan? Tentunya hal itu mungkin tercapai, jika keikhlasan dan niat tulus pelakunya dapat dipertahankan.</span><i><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Semoga! </span></i><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ariefara.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ariefara.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariefara.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariefara.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariefara.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariefara.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ariefara.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ariefara.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ariefara.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ariefara.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariefara.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariefara.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariefara.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariefara.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariefara.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariefara.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariefara.wordpress.com&amp;blog=2766115&amp;post=5&amp;subd=ariefara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariefara.wordpress.com/2008/02/06/tiga-tahun-bencana-nasional-di-aceh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8dde7589b1eb2e4fa6892c0247faf3dd?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ariefara</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
