home

TRILOGI

 

 

Tsunami-Mengenang yang Terkasih, Widya dan Aditya

Tulisan mengenang tragedi tsunami yang meluluhlantakkan Aceh 26 Desember 2004 lalu. Kisahku yang harus terpisah dengan kedua anakku terkasih, serta sepupuku yang manis.

 

 

I. PERJUANGAN MENYELAMATKAN SELEMBAR NYAWA

 Catatan Arief RahmanMedan, 31 Desember 2004 Sabtu 25 Desember 2004, bertepatan dengan perayaan Natal tahun 2004, berbagai rencana telah kami atur, khususnya untuk persoalan rumah yang baru kami tempati, yang telah selesai kami bangun sekitar 85-90%, dan persoalan syukuran untuk rumah baru dan ulang tahun si kecil, yang genap satu tahun pada 31 Desember 2004 nanti.            Yang diputuskan, Jumat 31 Desember 2004, kami akan menyembelih seekor kambing, untuk kenduri anak yatim sekitar 10 orang, serta  menjamu tetangga baru, sebagai wujud rasa syukur serta perkenalan sebagai penduduk baru di komplek Kajhu Indah Nanggroe Cemerlang, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar. Kebetulan kami diterima sebagai warga RT IV di kompleks tersebut.            Sebelumnya Jumat 24/12, aku dan istriku, setelah mengunjungi Ketua Komplek, Drs Nasir Zalba, menemui Ketua RT IV, Pak Anwar Puteh, untuk melaporkan diri dan mencari informasi mengenai berbagai kewajiban yang harus kami penuhi dan aturan-aturan yang harus kami patuhi. Termasuk soal kewajiban fardu kifayah.             Ketua RT IV yang akrab dipanggil Pak Wan tersebut menjelaskan beberapa hal, termasuk kewajiban fardu kifayah, diantaranya soal tanah wakaf, yang wajib bagi setiap penghuni komplek. Dan hasil kesepakatan warga, setiap kepala keluarga  (KK) baru  diwajibkan untuk melunasi uang tanah wakaf sebesar Rp.360.000,-, yang boleh dicicil empat kali. Sore itu, aku langsung melunasinya.                      Malam menjelang hari naas, tidak ada yang khusus yang kupahami sebagai firasat akan terjadinya perpisahan kami sekeluarga. Malam itu, hanya sikecil tidur terlalu gelisah, walau tanpa menangis. Sebelumnya, sejak sore memang Adit selalu memanggil-manggil papa. Tapi baik aku maupun istriku, tidak punya perasaan curiga apapun.             Termasuk ketika sepekan belakangan ini si kakak (Widya), ngotot minta untuk di foto yang tidak pernah ku turuti, serta ingin memiliki kamar dan ranjang yang penuh dengan bunga. Hingga hari berakhir dan malam berlalu, tidak ada yang spesial dan khusus.                                                            ******Cerahnya cuaca dipagi Minggu  (26/12) serta ketenangan alam ternyata menyimpan sesuatu dan merupakan tanda-tanda akan munculnya murka Tuhan. Sama sekali tidak ada yang menduganya, tidak juga keluargaku. Kami tetap memulai hari dengan menikmati segelas kopi bersama kedua anak dan istri serta seorang sepupu.       Bayangan minggu yang indah mulai berubah ketika gempa dengan kekuatan lebih 8,9 skala richter mengguncang Aceh, sekitar pukul 07.55 hingga 08.03 wib. Serta disusul lagi dengan gempa susulan yang terjadi beberapa kali.            Meski guncangan gempa cukup besar, hingga mampu menumpahkan air dalam bak mandi yang hanya terisi seperempatnya, namun warga di sekitar komplek, yang berjarak sekitar 8 Km dari kota Banda Aceh, tidak melihatnya sebagai sebuah pertanda akan datangnya bencana yang lebih besar.            Kepanikan baru muncul ketika 30 menit kemudian terdengar suara gemuruh ombak yang tidak seperti biasanya. Padahal jarak perumahan dengan pantai lumayan jauh, hampir satu kilometer.             Tanpa mengenakan baju, dan hanya sempat mengatongi HP yang saat gempa kupergunakan untuk mengontak BMG, saya instruksikan istri saya untuk mengambil baju dan dompet. Selanjutnya untuk membawa lari kedua anak kami bersama seorang sepupu yang tinggal di rumah sejak kami menempati rumah baru kami, yang baru 90% selesai kami bangun di kompleks tersebut.             Saya sendiri, menstarter motor Supra Fit warna biru yang baru sebulan kami beli, dengan Nopol BL 6075 AI. Selanjutnya menuju jalanan untuk membawa lari kedua anak kami. Namun naas, sesampainya di jalanan, jalanan sudah macet akibat banyaknya kendaraan dan orang yang masing-masing ingin lari sejauh-jauhnya dari ombak.            Saya sendiri hanya sempat menyentuh bahu sepupu saya, dengan maksud untuk meraih si kecil. Begitu pula istri saya, hanya sempat memegang tangan si kecil. Sedangkan sisulung (kakak) dengan wajah lugu tanpa mengerti apa yang terjadi, memegang erat kain celana yang dikenakan sepupu kami, sebelum secara tiba-tiba air miliaran kubik menimpa kami yang berada di jalanan. Semua gelap saat itu. Saling  terpisah, tenggelam dalam lautan gelombang Tsunami.            Antara Hidup dan Mati            Tenggelam dalam hempasan ombak Tsunami, selanjutnya menjadi sebuah perjuangan individu antara hidup dan mati. Apa lagi saat berada di bawah air akibat hempasan badai. Nyaris membuat putus asa dan pasrah atas apapun yang akan terjadi. Entah beberapa menit tenggelam akibat hempasan gelombang yang pertama, lalu datang mukzizat Allah, karena tiba-tiba aku muncul dipermukaan, walau hanya beberapa detik. Dan moment tersebut kupergunakan untuk mengambil napas yang panjang, yang ternyata juga menghidupkan kembali semangat untuk terus hidup. Dengan kesadaran yang masih penuh, aku berjuang untuk menyelamatkan selembar nyawa yang melekat di badan. Sementara anggota keluarga yang lain entah berada di mana.             Berkali-kali dihempas gelombang dan timbul tenggalam bersama berbagai jenis benda yang juga merupakan ancaman, sebab ketika kita muncul ke permukaan, tak jarang benda-benda tersebut datang secara tiba-tiba dan menghantam kepala atau wajah maupun tubuh kita. Namun tidak menyurutkan semangat untuk terus hidup.            Bahkan ketika seutas kabel listrik transmisi (TM) menjerat tubuh bagian atas, sementara arus air terus mendorong dengan keras, yang mengakibatkan aku tenggelam hingga beberapa menit, belum membuat aku pasrah, walupun bayangan kematian kembali melintas, sebab berbagai upaya yang kulakukan untuk melepaskan diri dari jeratan kabel listrik, terasa tidak membawa hasil. Apalagi selain tubuh kurus ini, semakin lama semakin banyak benda yang tersangkut di kabel tersebut. Syukurnya, ketika asa hampir putus, ada benda keras yang menghantam bagian belakang tubuhku, tepatnya di bagian paha atas. Hantaman ini ternyata membuat jeratan kabel mengendur, dan saya berhasil meloloskan diri dan mengapung ke permukaan. Namun bukan berarti kebebasan tersebut sebagai kemenangan. Sebab, saya masih harus berjuang lagi menghindari benturan dan hantaman berbagai benda, baik yang ada di depan atau yang tiba-tiba muncul dan menimpa dari atas kepala. Episode pertama ini baru berakhir ketika kekuatan akhir gelombang Tsunami mendorong tubuh yang sudah lelah dan lemah ini berikut sejumlah benda lainnya pada setumpukan kayu, seng, kulkas dan ribuan jenis benda lainnya yang tersangkut pada barisan pohon kelapa.

Berkah Yassin dan Takbir

Tenangnya air bukan berarti selesai sudah ancaman. Tubuh yang kurus ini dengan mudah diselipkan oleh gelombang disela-sela kayu rumah yang terbongkar dan hanyut. Sementara di bagian belakang setumpukan kayu serta benda-benda lainnya menekanku, sehingga aku sulit untuk bergerak.Hanya sebatas leher ke atas dan kedua lenganku yang berada diatas air, dan masih bebas bergerak. Sedangkan anggota tubuh yang lain terjepit kayu-kayu dan berada dalam air. Meski pasrah, aku tetap tidk mau untuk mati konyol. Aku terus menerus mencoba untuk melepaskan diri dari jepitan kayu-kayu yang membuat aku tidak bisa bergerak, Sementara kedua tanganku yang tetap kuupayakan berada di atas air, terus mencoba menyingkirkan tumpukan kayu yang berada di atas kepala. Lelah melepaskan diri dan tidak juga berhasil, aku mulai pasrah. Apalagi air mulai tenang, tidak lagi berombak dan berarus. Aku hanya berharap, gelombang yang menghempaskanku ke sela-sela tumpukan kayu tersebut merupakan gelombang terakhir. Namun rasa cemas akan kemungkinan datangnya gelombang lain tetap ada. Dalam keadaan yang tidak menentu tersebut, terdengar suara perempuan membaca Surat Yassin di sebelah kiri bagian belakang tubuhku. Tidak ada yang luar biasa memang, sebab selama diombang-ambingkan ombak badai Tsunami maupun saat terdampar di sela-sela tumpukan kayu tersebut, gema takbir maupun asma Allah dan alunan Yassin terus terdengar bergema di mana-mana. Namun suara bacaan Yassin kali ini membuat semangatku untuk dapat lepas dari jepitan kayu kembali bangkit. Suara orang yang menggemakan surat Yassin tersebut sangat persis dengan suara istriku. Rasa bahagia akan bertemu istri setelah sebelumnya terpisah, memberikuku kekuatan untuk kembali berusaha melepaskan diri dari jepitan kayu-kayu tersebut. Setelah beberapa saat berusaha, tetap tak membuahkan hasil. Lalu dengan sisa-sisa kekuatan  terakhir, diiringi dengan teriakan takbir, “Allahu Akbar”, aku kembali menggerakkan badan untuk meloloskan diri. Alhamdulillah, aku merasa ada sepotong kayu yang menjepitku sedikit melonggar.Dengan penuh keyakinan, aku mulai melepaskan anggota tubuhku yang terjepit sedikit demi sedikit, hingga akhirnya aku bisa meloloskan seluruh bagian tubuhku dari jepitan dan naik ke atas tumpukan kayu, kemudian melihat sekeliling untuk menemukan sumber suara yang telah memberikanku kekuatan.Meski ada rasa kecewa, namun aku berterima kasih pada wanita yang telah menggemakan Surat Yassin di saat aku dalam saat-saat yang kritis. Dia bukan istriku, tapi alunan Surat Yassin yang dikumandangkannya telah memberiku kekuatan. Sampai hari ini aku tidak tahu, apakah dia selamat atau tidak, (hanya Allah SWT yang maha tahu).“Ka Ijak Lhom………..!”Sambil beristirahat di atas tumpukan kayu, aku terus berzikir dan berdoa, semoga keluargaku diselamatkanNYA, dan kami dipertemukan kembali. Selebihnya, kami yang berada di lokasi tersebut sekitar belasan orang, mulai mengucap syukur, karena mengira bencana telah berakhir.Namun tidak berlangsung lama, karena beberapa menit kemudian seseorang berteriak dan ketakutan, “Ya Allah, ka ijak lhom ……! (Sudah datang lagi),” katanya.  sambil dengan panik memanjat ke pucuk pohon kelapa. Sambil menahan sakit di leher akibat jepitan kayu, aku menoleh kebelakang dan… “Allahu Akbar,” gelombang yang tingginya lebih kurang 3 meter dari atas air yang semula tenang, datang dari arah Kanan (Lampulo atau Ulhelheu), dan hanya berjarak belasan meter di belakang kami. Dengan sigap kami masing-masing mencari perlindungan dan meraih apa saja yang mungkin dapat menyelamatkan kami. Dengan meraih sebuah jerigen ukuran 20 liter, dan melemparkan galon air mineral kepada seorang wanita yang memintanya, aku kemudian berlari dan merangkul pohon kelapa terdekat.

Bersamaan dengan keberhasilanku merangkul pohon kelapa, saat itu pula ombak datang menerjang kami. Pohon kelapa tersebut tidak kuat untuk menahan hantaman ombak yang mendorong belasan ton benda yang tersangkut diantara pepohonan. Langsung saja dia roboh dan mencampakkan kami semua yang berada di situ. Dimulailah episode ke II melawan ganasnya gelombang Tsunami.

Namun ternyata tidak berlangsung lama. Hanya terhitung belasan menit, badai tahap ke dua ini berakhir, setelah mnghentikan aku pada sebatng pohon kelapa yang menjadi rem bagi lajunya tubuhku. Beberapa saat aku bertahan di pohon kelapa tersebut sambil tetap memegang jerigen.

Khawatir akan ada gelombang susulan seperti sebelumnya, aku nekat melompat ke air dan berenang ke sebuah pohon yang tidak kukenal jenisnya, dengan tetap memegang jerigen (jerigen ini baru ku lepas kemudian setelah aku dievakuasi ke Masjid Jami’ Tungkop, Darussalam). Lalu aku memanjat dan tidur telungkup pada sebuah cabang yang paling dekat yang dapat kuraih.

Hampir satu jam aku beristirahat di pohon tersebut, dengan hidung dan mulut terus mengeluarkan darah bercampur lumpur, sampai akhirnya kusadari kalau air sudah surut hingga hanya mencapai sekitar 1,5 meter. Keyakinan akan ketinggian air ini kuperoleh setelah sebelumnya aku melihat posisiku dengan tumpukan kayu, seng dan kasur serta benda lainnya yang berada di bawah pohon semakin jauh.

Setelah turun sampai ke tumpukan kayu, aku lalu mengukur kedalaman air dengan menggunakan kayu. Yakin air tidak dalam, ditambah lagi dengan banyaknya orang yang mulai melakukan perjalanan untuk meninggalkan lokasi mereka terdampar, membuat aku melakukan hal yang sama.

Setelah berjalan dalam lautan air lebih kurang sejauh 300 meter, akhirnya aku tiba di daratan terdekat, Desa Tanjong Selamat, Darussalam, Banda Aceh. Dengan langkah yang semakin berat karena kelelahan, sejumlah warga sekitar membawaku ke jalan desa, untuk kemudian di evakuasi dengan menggunakan sepeda motor menuju Masjid Jami’ Tungkop, Darussalam, sekitar pukul 12,30 wib, Minggu 26 Desember 2004.

                                                            ******

Tsunami-Mengenang yang Terkasih, Widya dan Aditya

II. PERJUANGAN LAIN DI KAMP PENGUNGSIAN

 Catatan Arief RahmanMedan, 3 Januari 2005

 

Setelah diombang-ambingkan badai Tsunami hampir satu jam lebih, akhirnya aku berhasil menyelamatkan diri dari seretan arus, setelah dengan susah payah dan sedikit nekat menabrakkan tubuhku pada sebatang pohon kelapa yang kelihatannya cukup kokoh. Namun karena khawatir akan datangnya badai susulan, seperti yang terjadi sebelumnya, aku kemudian berenang mendekati sebatang pohon yang tidak kuketahui namanya, lalu memanjat ke dahan yang terdekat dan beristirahat.

Setelah melepaskan lelah hampir satu jam dengan menelungkup di dahan, aku kemudian berjalan menyeberangi sekitar 300 meter genangan air. Akhirnya aku tiba di daratan, yang menurut warga merupakan kawasan Desa Tanjong Selamat, Darussalam, Aceh Besar.  Setelah menenggak air kelapa yang hanya berhasil aku tampung sebanyak satu teguk, aku kemudian meneruskan perjalanan menyusuri jalan desa, sampai akhirnya warga desa mengevakuasi ke Masjid Jami’ Tungkop, Darussalam.

Sesampainya di masjid petugas posko kemanusiaan yang didirikan PKS Darussalam langsung menggiringku menuju pos kesehatan. Setelah memberiku segelas air putih, mereka kemudian mengoleskan Betadhin pada luka yang terdapat di sekujur tubuhku, yang sebagian besar merupakan luka goresan.

Sejak aku tiba di posko, sekitar pukul 12.30 wib, tidak banyak yang dapat aku lakukan selain berbaring untuk memulihkan stamina. Dengan hanya mengenakan celana pendek tanpa baju, aku terbaring di bagian bawah masjid, hingga pukul 16.00 wib, ketika kurasakan kondisiku mulai membaik, barulah aku keluar untuk mencari keluargaku, yang mungkin terdapat di bagian lain masjid.

Hingga pukul enam sore aku terus membolak-balik penutup setiap mayat yang datang di depan biro rektor Unsyiah. Meski terus mencari, namun secara jujur aku akui, aku tidak berharap untuk menemukan mereka dalam tumpukan mayat tersebut. Namun demikian, aku terus mencari dan memburu setiap mayat yang datang.

Melawan Haus dan Lapar

            Tiga hari di penampungan, ternyata bukan saat yang singkat. Penderitaan batin yang dirasakan mengalahkan penderitaan lahir yang jelas terlihat dengan bekas-bekas di tubuh. Tiga hari terasa bagaikan tiga tahun, kedinginan, kelaparan, serta kehausan, semakin melengkapi penderitaan yang dirasakan.

            Pertama masuk ke posko pengungsi yang di kelola PKS Darussalam ini, setelah diberi perawatan ala kadarnya, aku langsung dibekali sebungkus mie instant, untuk pengganjal perut. “Ini untuk jaga-jaga Pak ya,” demikian diutarakan seorang petugas posko yang membagikan makanan tersebut.

            Dan memang, ternyata mie instant tersebutlah yang merupakan makan siang sekaligus makan malam dan sarapan pagi esoknya. Sebab, setelah menerima mie tersebut, hingga keesokan harinya, aku tidak menerima makanan apapun. Namun semua itu masih dapat diterima, mengingat kondisi posko sendiri memang dibuka secara swadaya.

Senin pagi, sekitar pukul 06.15 wib, Allah SWT memperlihatkan kebesarannya. Saat aku hendak turun ke kamar mandi masjid — biasanya aku keluar masjid dari tangga samping —   seseorang menggamit tanganku dan mengatakan ada yang memanggil, sambil menunjuk ke belakangku. Ketika aku menoleh kebelakang itulah aku melihat istriku terduduk lemas, dengan kaki kanan yang terluka cukup parah.

Setelah melepaskan tangis, aku kemudian membawa istriku turun menuju pos kesehatan untuk mendapatkan perawatan yang memadai. Namun karena ketiadaan persediaan obat yang memadai, istriku hanya mendapat perawatan alakadarnya. Setelah lukanya dibersihkan dengan air, lalu diberi Bethadin secukupnya, luka istriku kemudian dibalut dengan kain kasa yang sangat tidak memadai.

 Pada hari kedua ini, aku memiliki semangat yang lebih baik di bandingkan kemarin Walaupun kondisi kesehatan semakin turun, ditambah lagi perut masih terus kosong. Naman dengan keberadaan istri disampingku, semua itu tidak lagi aku rasakan. Aku terus bertekad untuk dapat bertahan, untuk mencari dan mengumpulkan keluargaku kembali.

Siang hari kedua ini kami memperoleh ransum untuk pengganjal perut berupa dua potong roti kabin untuk berdua. Sedangkan air minum, aku harus naik turun mencarinya ke dapur umum, yang tidak pernah jelas lokasinya. Hari itu aku ketemu rekan sesama wartawan, Sahrul Tanjung. Padanya kutitipkan pesan untuk menyampaikan kondisiku ke posko wartawan di PWI, agar mereka dapat segera  melakukan evakuasi. Namun baru pada hari ke tiga (Selasa) kami di evakuasi ke posko PWI oleh rekan wartawan, diantaranya Yayan dari Elshinta dan Fajaruddin Idris dari Analisa medan.

Sebelumnya pada hari Selasa pagi aku masih menyempatkan diri untuk kembali mencari kepastian tentang nasib anak-anakku, Widya keumala Sari (7,5 th) dan Muhammad Aditya Rahman (1 th), serta sepupuku  Suriati (22 th), dengan berjalan kaki dari masjid Tungkop hingga ke masjid Lambaro Angan.

Namun sesampainya di sana, bukannya menemukan anak-anakku, warga desa tersebut malah sudah tidak berada di desa tersebut. Mereka juga sudah mengungsi karena tak tahan dengan bau mayat yang berserakan, bukan saja di halaman mesjid, tapi juga di jalan-jalan desa.

Kehilangan Rasa Peduli

Kondisi kritis akibat ketiadaan obat-obatan, bahan makanan, dan air bersih, ternyata masih membuat sebagian warga yang menghuni posko pengungsian di masjid Tungkop kehilangan kepedulian terhadap sesama. Bahkan masih ada yang dapat menikmati makan malam dengan lahap, sementara di sebelahnya terbaring orang lain, yang jangankan makanan, sekedar air putihpun tidak ada.

Selama tiga hari aku berada di lokasi tersebut, hanya dua kali aku menikmati makan nasi. Yang pertama pada malam ketiga, ketika warga desa yang sama denganku, Kajhu, memberiku sepiring nasi yang kemudian kusantap berdua dengan istriku. Makanan dengan sayur nangka yang sudah sedikit basi tersebut, tetap kusantap, mengingat kondisiku saat itu sudah begitu lemah, terserang demam.

Nasi kedua kusantap pada hari ke tiga, sekitar pukul 15.00 wib. Setelah anak tetangga yang selamat berhasil antri untuk mendapatkan ransum nasi plus mie instant. Itupun setelah melalui perjuangan yang cukup berat untuk antri dan berdesakan, dan menahan sakit akibat terdorong kesana-kemari.

Posko pengungsian di masjid Tungkop, jika malam hari terisi cukup banyak orang, sehingga tidurpun kaki harus dilipat. Sebagian malah tidur dengan duduk. Sementara pada siang hari hanya beberapa gelintir orang yang berada di masjid. Yang bertahan siang malam ini umumnya mereka yang sudah tidak punya rumah lagi, karena digulung Tsunami, dan berada di lokasi yang lumayan jauh dari Darussalam.

Sedangkan yang malam datang siang pulang adalah warga sekitar kampus Unsyiah dan IAIN, sebagian besar mahasiswa, yang mengungsi karena takut datangnya Tsunami susulan, serta mereka yang sebagian rumahnya terkena genangan air. Tentu saja mereka masih bisa menanak nasi, membeli air mineral dan roti. Sedangkan korban yang mengungsi karena rumahnya hilang, tidak punya apa-apa lagi untuk membeli makanan.

Sehingga pemandangan yang terlihat di dalam masjid sungguh sangat menyedihkan. Banyak orang yang dapat makan nasi, dengan lauk yang nikmat, entah mereka masak sendiri atau mereka membeli, sementara di sebelahnya ada yang sama sekali belum makan sejak dua hari lalu, tapi tidak ada satu tawaranpun untuk makan bersama.

Sungguh sangat menyedihkan memang. Musibah ini dihadapi dan dirasakan bersama-sama. Sedangkan penderitaan yang dirasakan banyak berbeda. Ada yang masih memiliki segalanya, ada yang hanya tersisa sebagian, ada pula yang habis sama sekali. Namun ternyata tidak juga melahirkan kesadaran untuk mau saling merasakan penderitaan orang lain.

Naik Turun

Kondisi korban yang tidak menentu di posko pengungsian masjid Tungkop, selain membuat sedih, juga memilukan hati. Para pengungsi selain mengalami krisis obat, juga mengalami krisis pangan. Banyak pengungsi yang sama sekali tidak makan dan minum. Namun dengan berbagai alasan, mereka tetap bertahan.

Pemandangan yang menarik dan kerap terjadi di posko tersebut, para pengungsi yang berlarian naik turun masjid. Hal itu terjadi karena rasa takut dan trauma yang mereka alami, sehingga ketika gempa susulan datang mereka akan berlarian keluar masjid, untuk menyelamatkan diri dari kemungkinan tertimpa runtuhan masjid.

Namun tidak lama kemudian, mereka akan kembali berlarian masuk masjid dengan rasa takut yang luar biasa. Hal itu terjadi karena mereka merasa takut dengan datangnya air bah susulan pasca gempa. Hal seperti ini berkali-kali terjadi, tidak hanya pada siang hari, tapi juga pada tengah malam.

Kondisi super panik ini tidak lagi mengganggu aku dan istriku. Kami tidak lagi khawatir akan kemungkinan runtuhnya bangunan masjid. Hal itu disebabkan keyakinan atas apa yang terlihat, bahwa sejak gempa terjadi hingga datangnya gelombang Tsunami, masjid di desa kami, Kajhu, tidak retak sama sekali. Makanya kami yakin masjid Tungkop-pun tidak akan runtuh.

“Kalau memang ajal kita di masjid ini, karena tertimpa runtuhannya akibat gempa, biarlah. Tapi yang pasti, belum ada masjid yang kita dengar runtuh karena gempa dan Tsunami ini,” kata istriku yakin.

Dan keyakinan itu terbukti. Hingga kami di evakuasi ke Medan pada hari ketiga. Beberapa kali gempa susulan terjadi, masjid Tungkop tetap gagah berdiri. Semoga, kekuatan dan kesabaran serta imanku sekuat dan sekokoh masjid Kajhu, yang tak retak dihantam gempa atau diterjang Tsunami.

                                                                  ******  

Tsunami-Mengenang yang Terkasih, Widya dan Aditya

III. SEMUANYA TAK LAGI BERSISA

 Catatan Arief RahmanMedan, 19 Maret 2005 Gelombang tsunami yang meluluh lantakkan sebagian wilayah Aceh, ternyata tidak hanya menghancurkan harta bendaku, termasuk rumah yang baru selesai ku bangun dan kutempati hanya 39 hari, tapi juga merenggut kedua kekasihku, Widya keumala Sari (7,5 th) dan Muhammad Aditya Rahman (360 hari).             Atas kehendak Allah SWT, tsunami yang menghantam keluargaku, hanya menyisakan aku dan istriku, serta meninggalkan sepasang pakaian yang dikenakan istriku, dan sepotong celana pendek yang kukenakan. Menjadikan kami kembali pada titik nol, dan harus memulainya lagi dari awal.             Meski berada dalam kesedihan, namun ketabahan istriku serta tekadnya untuk tetap melanjutkan hidup, walau harus mengulangnya dari awal, membuat kami semakin kuat untuk mengarungi cobaan ini bersama-sama.             Hidup baru ini, kembali kami awali sejak 6 Maret 2005, ketika kami kembali ke Banda Aceh, setelah dinyatakan boleh berhenti berobat oleh dr Edok Sudagdo, spesialis bedah yang merawat istriku selama di Medan, selama dua bulan lebih.             Mahalnya harga sewa rumah di Banda Aceh pasca tsunami, mengharuskan kami menyewa sebuah kamar, karena memang itu kemampuan yang kami miliki saat ini. Sebab, kami memang sudah tidak punya apa-apa lagi. Bantuan-bantuan dari mereka yang simpati pada kami, terutama dari kalangan rekan-rekan wartawan, habis untk biaya rumah sakit plus obat-obatan yang mencapai Rp.17.119.000,- serta biaya berobat jalan yang rata-rata Rp.1.000.000,- seminggu.             Semuanya memang tak lagi bersisa. Rumah yang kami bangun di Komplek Kajhu Indah Nanggroe Cemerlang, yang baru kami tinggali hanya berbilang hari, tempat yang kami rencanakan sebagai tempat kami merajut masa depan, hanya menyisakan pondasi. Tidak ada apapun yang tertinggal, selain hanya kenangan indah ketika 39 hari bersama di rumah itu.                                                            *****Sebagai seorang suami, aku merasa bangga, karena setelah delapan tahun perkawinan ku dengan istriku, Samsidar, yang kunikahi 1 April 1996 lalu, selain telah dikaruniai dua orang anak, Widya Keumala Sari yang lahir pada 19 Agustus 1997, dan Muhammad Aditya Rahman, yang lahir 31 Desember 2003, aku juga berhasil membangun rumah tinggal sederhana untuk keluargaku.             Sebelumnya, sejak Widya berusia lima bulan, aku memboyong istriku untuk pindah ke Banda Aceh, dan menabukan tinggal menumpang di rumah mertua, di Sigli. Dengan penghasilan yang tidak menentu saat itu, apalagi kontrak kerjaku dengan PT Sinar Permata Deli (SPD), yang mengkoordinir liputan berita TPI untuk wilayah Sumatera telah berakhir pada Juni 1996, aku benar-benar berada dalam posisi sulit. Namun pesan almarhum ayahku untuk tidak bergantung pada keluarga istri begitu kuat. Makanya aku nekad memboyong istri dan anak pertamaku untuk tinggal bersamaku di kamar kontrakanku di kawasan Kampung Keramat, Banda Aceh. Padahal kala itu istriku sudah bekerja di Sekretariat DPRD Pidie. “Jangan pernah sekali-kali hidup dengan menikmati hasil keringat istrimu. Itu akan membuatmu malas bekerja.” Itulah nasehat almarhum ayah yang tetap kupegang. Sementara untuk menghidupi keluargaku, aku bergantung tok pada penghasilan sebagai korespondent lepas Tabloid Hikmah Pikiran Rakyat Bandung, yang tidak tetap. Kadang ada kadang tidak. Dan Allah SWT ternyata masih sayang padaku. Genap saat anakku berusia satu tahun, aku nekad mencari rumah sewa, yang bukan hanya sekedar kamar. Sebulan mencari, aku menemukan rumah sederhana yang kusewa dengan harga saat itu Rp.550.000,- pertahun, di daerah Simpang Surabaya, Banda Aceh. Rumah sederhana dengan dua kamar tersebut kusewa selama dua tahun.            Dimulai Dari Nol            Dirumah ini, kehidupan kami sebagai keluarga kami mulai dari nol. Berbekal sebuah kompor, sebuah wajan, sebuah panci, serta setengah lusin piring dan gelas bantuan mertua, kami memulai hidup baru sebagai layaknya sebuah keluarga. Sementara rumah yang terbilang besar saat itu bagi kami yang masih bertiga, kosong melompong tanpa isi apapun.             Untuk membuat rumah tersebut seperti lapangan bola, karena tidak ada perabotan apapun, aku memanfaatkan waktu luangku untuk membuat sendiri beberapa perabotan rumah tangga dari kayu. Seperti lemari pakaian, lemari hias untuk ruang tamu, serta meja dan ranjang.             Namun masih juga rumahku terlihat bukan seperti rumah orang kebanyakan. Bahkan aku sempat terlecut ketika mertuaku datang berkunjung dan berujar, “Rumah kok enggak ada apa-apanya. Kemana kalian habiskan uang kalian. Orang lain juga wartawan, tapi rumahnya ada perabotannya,” kata mertuaku.             Kata-kata tersebut sungguh membuat aku malu, dan melecutku untuk lebih bergiat lagi bekerja. Dan semuanya diawali ketika aku diajak untuk menggarap kelahiran Mingguan Aceh Ekspres, sebuah koran daerah, yang semula diprediksikan untuk terbit harian, awal tahun 1998.             Saat bekerja di SKM Aceh Ekspres inilah aku mampu mengisi rumahku dengan barang-barang yang merupakan perabot tetap di sebuah keluarga. Aku mulai membeli sebuah TV bekas 14 inch dan mengembalikan TV hitam putih sumbangan mertua. Lalu sebuah kulkas, tape recorder, hingga peralatan dapur masa kini—yang semuanya membuat wanita kurang kreatif—bahkan TV bekas yang kubeli pertama dapat kutukar dengan TV baru ukuran 20 inch. Bahkan aku mulai bisa menabung sedikit demi sedikit. Apalagi istriku terbilang cukup ahli dalam mengatur manajemen keuangan keluarga. Maklum, Dia jebolan SMEA. Tentunya menguasai betul prinsip ekonomi.            Pertengahan tahun 2000, MBM Gamma yang tidak lagi memiliki reporter di Aceh (setelah dua orang reporter Aceh mereka tarik ke Jakarta) mengajak aku untuk bergabung menjadi stranger di Aceh. Kupikir ini peluangku untuk berkarir lebih baik di dunia jurnalistik, makanya tawaran ini tidak ku tolak.             Jadilah aku wartawan yang merangkap di dua media, yakni Aceh Ekspres dan Gamma. Barulah pada akhir tahun 2000 aku tidak lagi merangkap, karena Aceh Ekspres tutup, yang tak lama kemudian disusul dengan tutupnya MBM Gamma, tahun 2002. Aku kemudian berkarir di koran Sumut Pos, hingga Maret 2003 diajak bergabung di Hr. Analisa Medan. Lahir Membawa Rezeki31 Desember 2003 kebahagiaan keluarga dilengkapi dengan kelahiran putra keduaku, Muhammad Aditya Rahman, putra yang kelahirannya kuanggap sebagai pembawa rezeki bagi keluargaku. Bagaimana tidak, pasca kelahiran Aditya, aku berhasil membeli sebidang tanah dengan ukuran 10 x 20 meter, di komplek Mutiara Cemerlang, yang kemudian saat aku bangun rumah, ku beli lagi 3,30 x 20 meter tanah yang berada di samping kanan, agar pas bersisian dengan parit utama. Awalnya kutargetkan rumah ini selesai ku bangun sekitar dua tahun. Apalagi memang kontrakkan rumahku baru akan berakhir September tahun 2006. Namun itu tadi, rezeki yang mengikuti kelahiran putra ke duaku ini mengalir dengan deras. Aku bisa menyelasaikan pembangunan rumahku hanya sekitar 5 bulan.             Disela-sela [embangunan rumah ini, aku juga mampu membeli sepeda motor baru secara cash. Awalnya aku tidak berniat membeli motor ini. Apalagi aku masih memiliki vesva butut tahun 1978, yang sudah tiga tahun setia menemaniku. Namun atas pertimbangan vesva sering mogok, ditambah lagi Widya sudah semakin jauh untuk pergi dan pulang sekolah, akhirnya kuputuskan untuk membelinya. Dan 18 Nopember 2004, bertepatan dengan 5 Syawal 1425 H, aku memboyong keluargaku untuk pindah dan menempati rumah baru kami. Rumah tempat merajut masa depan. Rumah kebanggaan yang akan menjadi tempat awal anak-anak kami melangkahkan kakinya meraih masa depan mereka. Dan kekuasaan Allah Swt berada di atas segalanya. Tidak ada kekuatan dan kekuasaan yang mampu menandingi kekuatan sang khalik ini. Minggu 26 Desember 2004, hanya lima hari menjelang HUT pertama Aditya, Allah Swt mengambil kembali semua yang telah DIA berikan  pada kami, tak bersisa!Kenangan Yang TertinggalWidya Keumala Sari, putri pertamaku yang lahir hari Selasa, 19 Agustus 1997 di Sigli, memang bukan anak yang luar biasa. Dia baru bisa berjalan ketika berusia satu tahun lebih seminggu. Setelah lulus TK tahun 2003 dan bersekolah di SD Kartika I/XIX Banda Aceh, yang masuk kategori SD unggulan di Banda Aceh, sejak kelas I hingga Catur Wulan I di kelas II, Widya hanya mampu menempati ranking V dari 63 siswa. Namun Dia sudah mampu mengaji Al-Quran dan sudah hampir mengakhiri zuz I.Menurut guru mengajinya, Widya cukup cepat dalam menangkap pelajaran, bahkan cepat dalam menghapal doa-doa yang diajarkan. Bahkan diakui gurunya, Widya sudah hapal bacaan shalat sejak di TK, dan mampu mengerjakan shalat sendiri. Selama sepekan sebelum tragedi tsunami merenggutnya dari kami, Widya selalu meminta untuk difhoto. Namun aku tidak menurutinya..”Pa, fhoto Wiya kenapasih Pa. Papa pelit,” pintanya berkali-kali. Permintaannya yang tidak kuturuti ini belakangan melahirkan sesal bagiku. Tiga hari sebelum tragedi, Widya juga menginginkan dibelikan ranjang yang penuh dengan taburan bunga. “Pa Widya mau tempat tidurnya yang ditaburi banyak bunga,” katanya. Namun Mamnya mengatakan itu tidak bagus, seperti orang gila. “Enggak Ma, cantik dan wangi lagi kalau banyak bunga di tempat tidur Wiya,” katanya ngotot. Ternyata itu memang firasat yang diberikan Widya pada kami, kalau dia ingin pamitan.Dan ketika air pertama kali menyentuh tubuhku, aku masih melihat Widya yang berdiri  di sisi sepupu istriku saat terjebak kemacetan jalanan komplek, memandangku dengan wajah polosnya, tanpa suara, dengan pandangan ikhlas, dengan wajah bersih, seolah tanpa rasa takut dan mengisyaratkan ucapan “Selamat tinggal Papa!” Masih banyak permintaannya yang belum terpenuhi. Namun hanya itulah batas kemampuanku sebagai manusia untuk membahagiakan Widya. Dan kini memang saatnya Dia diambil kembali oleh Allah Swt, untuk dibahagiakan di surgaNYA. Rabu pagi 31 Desember 2003, kebahagiaanku lengkap sudah, ketika Allah Swt berkenan memberikan aku seorang putra laki-laki, yang kami beri nama Muhammad Aditya Rahman. Belum banyak kenangan memang yang diberikannya dengan usia yang tidak sampai satu tahun. Namun usia yang singkat tersebut ternyata telah merubah jalan hidup kami menjadi terasa lebih lengkap. Saat berusia 10 bulan lebih beberapa hari, tepatnya i Syawal 1425 H, atau 14 Nopember 2004, si kecil Adit bisa berjalan. Sama seperti si Kakak, yang juga bisa berjalan ketika akan memasuki rumah baru. Dan Adit terlihat begitu pintar. Sebab, ketika hendak tidur malam, dia tahu untuk mengambil pampers dan memberikannya pada  Mamanya, untuk dikenakan padanya. Dia juga akan memberitahukan dimana ia pipis, ketika tidak sempat mengajak Mamanya ke kamar mandi. Bahkan Dia tahu untuk kekamar mandi jika hendak pipis. Dan setiap pagi, bangun tidur, Adit akan segera keluar kamar sendiri dan menuju teras belakang, untuk kemudian mengambil kain lap dan mengelap motor yang ku parkir di teras. Kenangan-kenangan ini yang  selalu hadir dalam kesepian kami belakangan ini, ketika kami kembali harus memulainya dari titik awal.  Semoga Allah Swt menjadikan kalian, anak-anakku, sebagai ahli surga dan membahagiakan kalian berdua disurgaNYA. Amin!                                                            ******

Tinggalkan sebuah Komentar

Belum ada komentar.

Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.